Advertisement
Advertisement
Episode 40 Part 1

All images credit and content copyright: MBC


Eun Jae mengajukan surat penuduran diri dari RS Geoje Jeil. Direktur mengatakan bahwa dia tidak bisa bilang kecewa karena ini kesempatan bagus untukmu, jadi aku tidak bisa menghentikanmu (seperti direktur tahu bahwa Eun Jae akan ke Inggris dan tidak tahu alasan sebenarnay Eun Jae mengundurkan diri).
Eun Jae berterima kasih atas semua yang telah dilakukan direktur untuknya. Direktur meminta Eun Jae untuk menjaga dirinya dengan baik, mereka berjabat tangan dan Eun Jae pun pamit untuk pergi.

Eun Jae baru keluar dari ruangan direktur, dia berjalan di lobbi RS. Disana perawat Pyo juga sedang jalan-jalan untuk memulihkan kesehatannya. perawat Pyo melihat Eun Jae dan memanggilnya “dokter Song” Eun Jae pun menghampirinya.
Perawat Pyo langsung bertanya “kau berhenti?” Eun Jae mengangguk Ya. perawat Pyo memberikan Eun Jae banyak pertanyaan “dan kau akan berhenti bekerja dari RS Kapal juga?” Eun Jae hanya mengangguk-anguk Ya dan tidak mengatakan hal lain lagi. perawat Pyo bertanya “apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?” tapi Eun Jae tak menjawabnya.

Eun Jae dan perawat Pyo menuju ruang tunggu pasien, Eun Jae membantu perawat Pyo untuk duduk, setelah duduk mereka belum mulai pembicaraan dan hanya terdiam.
Eun Jae mengatakan “aku punya perasaan, itu tidak akan bertahan lama” perawat Pyo bertanya “apa itu?” Eun Jae mengatakan bahwa itu rahasia, dan Eun Jae berpikir kalau pak Chu akan membetritahu perawat Pyo.
perawat Pyo : bahkan jika dia tidak melakukannya. Kau yang harus melakukannya. Itulah yang benar.
Eun Jae menghadap ke perawat Pyo dan mengatakan untuk menyimpannya sendiri dan tidak ada yang boleh mengetahuinya.
perawat Pyo : kau mau pergi kemana?
Eun Jae : U.K.
perawat Pyo : dokter Song.
Eun Jae : disitulah aku ingin pergi, karena aku ingin pergi kesana.
perawat Pyo : kenapa kau melakukan ini? kenapa kau begitu keras kepala?
Eun Jae : kau memang benar “cinta adalah segalanya” ini adalah segalanya. Ada orang yang aku suka, dan aku hanya memikirkan dia. Membuat tangan dan kakiku meringkuk. Ini mengalahkan dadaku setiap saat (memegang dadanya) langit begitu biru, laut begitu indah. Dan setiap tanaman yang aku lihat cukup indah, karena semuanya ada disana.

Mata Eun Jae mulai berkaca-kaca dan meneteskan air matanya. Eun Jae tak tahan menahan air matanya dan mengatakan “kanker yang tumbuh di tubuhku, ini adalah kanker ganas. Jika menyebar ke paru-paruku, aku bisa mati. Bahkan jika aku tidak mati, kemungkinanan besar aku akan cacat”.
Perawat Pyo sangat terkejut. Eun Jae melanjutkan perkataannya “aku pikir, aku ingin orang itu selalu memikirkanku. Kecuali aku sehat dan cantik, aku tidak ingin bersamanya. Aku tidak ingin dia melihatku, ketika aku menderita dan menyedihkan”.
Perawat Pyo tersentuh dengan perkataan Eun Jae, dan meminta Eun Jae untuk tidak melakukan hal itu. Eun Jae terus menangis.
Eun Jae : terlebih dari itu, aku tidak bisa membuatnya merasa kalau aku adalah beban. Dia sudah cukup berjuang meski tanpaku. Aku tidak jatuh cinta untuk menjadi beban atau untuk membebani orang lain. Jika aku tahu, aku tidak akan memulainya. Aku ingin membuatnay merasa nyaman, meski itu hanya sedikit. Aku ingin dia bisa tetap santai. Itulah sebabnya kuputuskan. Itulah kenapa aku lebih suka dengan cara ini.
Menurut Perawat Pyo, apa yang dilakukan Eun Jae itu sangat keren.
Eun Jae : aku ingin menjadi keren.
Perawat Pyo : dan keras kepala.
Eun Jae : aku selalu begitu.
Perawat Pyo sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan Eun Jae, kemudian Perawat Pyo memeluk Eun Jae dengan penuh kasih sayang, dia merasa kalau Eun Jae dan semua petugas kapal sudah seperti keluarga sendiri yang mendarah daging. Eun Jae menangis tersedu-sedu di pelukan Perawat Pyo.

Hyun mengantar Eun Jae ke terminal bis, dia membantu memasukan koper Eun Jae ke dalam bagasi Bis. Setelah itu Hyun bertanya “apa kau harus naik bus pertama pada hari kerja?” Eun Jae mengatakan karena semua itu sesuai jadwal mereka, aku memiliki kurang dari setengah hari antara seminar dan penerbanganku. Mereka benar-benar ingin bertemu saat itu”.
Hyun meminta Eun Jae untuk segera menelponnya jika sudah sampai dan miminta Eun Jae untuk segera naik bis karena cuaca diluar sangat dingin. Sebelum naik Bus, Eun Jae meminta Hyun untuk berhati-hati. Hyun tidak paham dan bertanya “salam apa itu? Seharusnya kau mengatakan sesuatu seperti (sampai jumpa lagi)  kau tidak bisa mengatakan (hati-hatilah) seperti kita tidak akan bertemu lagi”.
Eun Jae menatapnya dan berkata “apa aku mengatakan itu?” Hyun tersenyum dan meminta Eun Jae untuk tidak mengatakan hal itu lagi. Eun Jae paham dan mulai naik bis. Hyun memperhatikan setiap langkah Eun Jae saat menaiki bisnya.

Hyun melihat Eun Jae yang sudah duduk di dalam bis, Hyun mengisyaratkan kepada Eun Jae untuk menghubunginya jiak sudah sampai, dan Eun Jae pun mengangguk Ya. Hyun menunjukkan tangannya dan itu membuat Eun Jae tersenyum lebar. Saat bis mulai jalan Eun Jae dan Hyun saling melambaikan tangan. Eun Jae terlihat sangat sedih meninggalkan Hyun dan telah membohonginya.

Di dalam bis, Eun Jae meratapi banyak hal dan sampai-sampai dia meneteskan air matanya. Air mata Eun Jae tak bisa di tahan karena Eun Jae sangat sedih dan gelisah.

Di Rumah Sakit, Eun Jae sedang melakukan pemeriksaan.

Setalah selesai melakukan beberapa tes, Eun Jae berjalan sendiri menuju ruangannya. Dia ingat perkataan dokter yang menanganinya. Dokter itu mengatakan “tumornya cukup besar, CT dada dan PET-CT menunjukkan tanda-tanda kanker itu sudah menyebar ke paru-paru (PET-CT: alat pendeteksi perubahan/altivitas sel di dalam tubuh dengan media warna sehingga pemeriksaannya akan menciptakan haisl yang lebih mendetail)”
Dokter juga menyarankan Eun Jae melakukan kemoterapi untuk mengatasi kanker di paru-paru dan mencoba mengurangi massnya.

Di ruang rawat inap, Eun Jae merenungi kanker ganas yang di deritanya. Dia duduk sendirian karena tidak ingin merepotkan orang-orang disekitarnya.

Di Rumah Sakit Kapal, Hyun sedang kebingungan di ruangannya, tiba-tiba Jae Geol masuk dan bertanya tentang Eun Jae. Hyun mengatakan bahwa Eun Jae belu pernah menelponnya dan bahkan nomornya pun tidak bisa dihubungi.
Jae Geol : tidak sekalipun dalam sebulan ini? (Hyun hanya mengangguk Ya) kenapa kau tidak menelpon ke Inggris?
Hyun : kau pikir aku tidak melakukannya?
Jae Geol : lalu?
Hyun : ketua Tim mereka pergi ke Somalia yang dilanda perang tiba-tiba. Satu orang Timnya adalah orang korea.
Jae Geol : apakah itu Eun Jae?
Hyun : mereka tidak bisa memastikannya. Mereka akan menelpon secepatnya, jika aku menunggu dan mereka sudah dapat kabar.
Jae Geol merasa gila jika terus-terusan seperti ini. tiba-tiba Hyun mendapat panggilan dan mengangkatnya. Saat Hyun sedang dalam panggilan telepon, JAE Geol pamit untuk pergi dari ruangannya.
Hyun mendapat telepon dari pasiennya, dia ingin mendapatkan hasil X-Ray dan Hyun pun memintanya untuk datang ke RS Kapal sore nanti dan akan menjelaskannya juga.

Hyun memasuki ruang X-Ray, dia datang karena mencari pak Chu, tapi dia tidak ada. Hyun pun mencari data pasiennya karena harus segera mengirimnya.
Ketika Hyun sedang mencari nama pasiennya, dia melihat data atas nama “Song Eun Jae”. Karena penasaran Hyun pun melihat data tersebut, dan itu diambil sebulan yang lalu. Hyun melihat hasil X-Ray Eun Jae. Hyun sangat kaget melihat X-Ray Eun Jae.

Pak Cho datang dan bertanya “apa yang kau lakukan disini?” Hyun tak menatapnya dan langsung bertanya “apa ini? apa ini kaki dokter Song?” Pak Chu berkata “dokter Kwak...”
Hyun sangat marah dan berteriak “apa dokter Song sakit?” teriakannya terdengar sampai keluar, sampai-sampai AH Rim pun mendengarnya dan datang untuk bertanya “apa dia sakit? Benarkah yang kudengar ini? apa dia beneran sakit?”
Diantara Mereka tak ada yang menjawab sepatah katapun dari pertanyaan Ah Rim. Hyun sangat kesal karena baru tahu tentang penyakit yang diderita Eun Jae, dan bahkan pak Cho pun tidak meberitahunya.

Hyun masuk ke ruangannya, dia duduk di kursinya sambil mengehla nafas dan menenangkan pikirannya. Setelah pikirannya mulai tenang, Hyun mencoba menghubungi Eun Jae beberapa kali, tapi itu tidak berhasil karena Eun Jae tidak mengangkatnya sama sekali.

Di malam hari, Hyun baru tiba di asrama dan memasuki kamarnya. Saat memasuki kamar, Hyun langsung melepar tasnya ke kasur. Ponsel Hyun berdering dan dia pun langsung mengangkatnya.
Hyun menerima panggilan dari temannya, dia mengatakan bahwa tadi mematikan telponnya karena sedang di dalam kelas. Dia bertanya tentang Nona-nya. Hyun tidak mengerti dengan pertanyaan temannya, Noona mana ynag dia makssud.

Hyun sedang merenung di tepi danau dekat asrama, Hyun terus melihat ke sampingnya, karena biasanya selalu ada Eun Jae yang menamani di sampingnya.
Kemudian Hyun menelpon seseorang. Dia bertanya tentang Eun JAe “ Halo? kau tahu siapa aku? Aku tahu segalanya, katakan padaku yang sebenarnya. Kau tahu diaman dokter Song?”
Orang itu mengetahui keberadaan Eun Jae sekarang, dia mengatakan bahwa Eun Jae ada di RS-nya. Hyun mendengarkan apanyang dikatakan rekannya tersebut. Dan langsung pergi ke RS itu unttuk menemui Eun Jae.

Hyun tiba di RS. Hyun di temani dokter yang menangani Eun Jae. Dia mnegira kalau Eun Jae mnghubungi keluarganya jadi dia tidak memberitahu Hyun sebelumnya. Dokter mengtakan kepada Hyun “seperti yang kau lihat, bahkan kita tidak diizinkan untuk masuk, dia tidak akan membiarkan siapapun masuk”.
Dokter meminta Hyun untuk tidka menyalahkan Eun Jae dan begitu Hyun masuk, dia harus siap dengan reaksi Eun Jae padanya. Dokter pun pamit pergi.
Di depan pintu ruangan Eun Jae di tempel pengumuman untuk tidak ada yang msuk kecuali dokter yang merawatnya. Hyun melihat semua itu dan bertanya-tanya, kenapa Eun Jae melakukannya.