Advertisement
Advertisement
Episode 39 Part 1

All images credit and content copyright: MBC


Pagi yang sangat cerah di Rumah Sakit Kapal.
Di ruang operasi, Hyun sedang membedah kaki pasien dengan di temani AH Rim, sekarang Hyun terlihat seperti Eun Jae yang tidak takut akan tantangan apapun.

Di ruang sterilisasi kaki Eun Jae sakit lagi, dia memijat-mijat kakinya untuk meredakan rasa nyeri yang dia rasakan. Kemudian Hyun masuk  dan melihat Eun Jae kesakitan, Hyun memeriksa kakinya dan bertanya “kenapa lagi? Apa kakimu sakit lagi? Kau bilang suda baikan”.
Eun Jae mengelak dari semua pertanyaan Hyun. Eun Jae mengatakan bahwa sakit yang dia rasakan karena tersandung saat turun dari mobil. Hyun ingin memeriksanya lebih jelas, namun Eun Jae menghentikannya karena dia merasa sudah baik-baik saja. Hyun sangt mengkhawatirkan Eun Jae. Dan memastikan kalau EUN Jae bisa melakukan operasi hari ini.
Hyun : apa kau sungguh baik-baik saja? Apa kau pikir bisa melakukan operasi?
Eun Jae : bagaimana jika aku tidak bisa? Apa kau mau melakukannya untukku?
Hyun hanya tersenyum, Eun Jae meminta Hyun untuk tidak mengkhawatirkannya, karena rasa sakitnya tidak begitu parah.

Di ruang oeprasi. Eun Jae mulai membedah kaki pasien dengan di bantu oleh Hyun dan perawat lainnya. Saat sedang melakukan operasi, tiba-tiba kaki Eun Jae sakit kembali, Hyun memlihat Eun Jae kesakitan dan menjadi sangat khawtir akan Eun Jae, tapi Hyun tetap fokus membantu proses operasi, begitupun dengan Eun Jae dia tetap melakukan operasinya dengan telaten. AH Rim juga melihat Eun Jae kesakitan.

Di luar ruang operasi, wali pasein dan penjaga pantai sedang panik menunggu hasil operasi. Akhirnya Hyun dan Eun Jae selesai melakukan operasi, walinya pun langsung menanyakan kondisi pasien. Eun Jae mengatakan bahwa operasinya berjalan lancar, pasien sudah stabil dan sudah bisa di pindahkan ke RS darat.
Wali pasien sangat berterima kasih kepada Eun Jae dan Hyun, dan mereka pun masuk ke ruang operasi untuk melihat keadaan pasien.
Eun Jae pun langsung pergi ke ruangannya, Hyun memperhatikan Eun Jae berjalan dan penasaran dengan apa yang Eun Jae rasakan di kakinya.

Di ruangan, Eun Jae sedang memeriksa kakinya. Kemudian Ah Rim datang dan membawakan secangkir kopi untuk Eun Jae. AH Rim jga bertanya tentang kaki Eun Jae “bagaimana? Apa kakinya masih sakit?”. Eun Jae mengatakan “hanya sedikit”.
Ah Rim meminta Eun Jae untuk melakukan akupunktur dengan Jae Geol, karena menurutnya itu lebih efektif. Eun Jae hanya diam saja dan terue memperhatikan kakinya. AH Rim bertanya karena Eun Jae diam saja “apa kau tidak mau?”
Eun Jae meminta AH Rim untuk membawakan beberapa obat untuk pereda nyerinya. Kemduian AH Rim menyarankan Eun Jae untuk melakukan pemeriksaan X-Ray karena kaki Eun Jae terlihat begitu bengkak. Tapi Eun Jae tidak berpikir sejauh itu, dan terlihat biasa saja dengan rasa sakitnya.
AH Rim : segera melakukan pemeriksaan X-Ray, bagaimana jika ada yang patah? Bagaimana jika bertambah parah dan kamu membutuhkan operasi juga? Siapa yang akan melakukan operasi pasien jika kau sakit?
Eun Jae merenungi perkataan AH Rim dan bertanya “apa aku harus melakukannya?” Ah Rim tersenyum dan berkata “kamu kan sering melakukan operasi. Hanya menyebutkan operasi saja, kamu segera berubah...”
Eun Jae menghentikan Ah Rim, dan Ah Rim pun bertanya “apa kau perlu bantuan?” Eun Jae mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan bantuan. AH Rim masih bertanya “apa aku harus memanggih dokter Kwak Hyun?”
Eun Jae : kenapa kau ingin melakukan itu?
AH Rim tergagap “aku juiga tidak tahu kenapa ingin melakukannya” Eun Jae pun keluar dari ruangannya dan Ah Rim mengikuti Eun Jae.

Eun Jae masuk ke ruangan Pak Cho untuk melakukan X-Ray di kakinya, dia mengatakan kepada Pak Cho karena dia khawatir kalau dia mengalami patah tulang.
Pak Cho : kau akan berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk jika memang begitu. Kakimu pasti bengkak parah.
Eun Jae : benarkah? Lupakan saja. Kalau begitu aku tidak akan melakukannya.
Pak Cho : aisshhh jangan begitu. Yang terbaik adalah memastikannya daripada menyesal.
Pak Cho pun meminta Eun Jae untuk berbaring dan tidak bergerak, karena akan segera melakuakn pemeriksaan X-Ray di kakinya.

Eun Jae selesai melakukan pemeriksaan X-ray. Saat dia keluar dari ruangan Pak Cho, Hyun langsung menghampirinya dan menariknya ke bawah. Eun Jae meminta Hyun untuk menjaga jarak saat di kapal karena Ah Rim sepertinya sudah mengetahui kedekatan meraka.
Hyun : kenapa memangnya kalau dia tahu? Apa yang dia katakan?
Eun Jae : kau tidak bisa melanggar peraturan pertama.
Hyun pura-pura lupa “apa peraturan pertama?” dia terlihat sedang berpikir. Kemudian Eun Jae mengingatkannya “jangan memegang pergelangan tanganku di RS Kapal” Hyun bercanda kepada Eun Jae “lalu, bolehkan aku memegang pergelangan kakimu?” Eun Jae kaget dan berkata “apa kau bilang?”
Hyun meminta Eun Jae duduk di tangga dan meluruskan kaki Eun Jae yang sakit, dia akan memasangkan plester pereda nyeri untuknya. Eun Jae menghentukannya, tapi Hyun memaksanya dan meminta Eun Jae untuk diam karena dia akan memasangkannya .
Eun Jae memperhatikan Hyun saat sedang memijat kakinya dan mereka sama-sama tersenyum dan saling bertatapan mata.

Pak Cho memeriksa hasil X-Ray kaki Eun Jae. Dia akan memastikan apakah kaki Eun Jae retak atau tidak. Pak Cho memperbesar hasil X-Ray nya dia terus memperhatikan gambar tersebut. Di kaki sebelah kiri tidak terlihat jelas dan sedikit buram. Pak Cho mengelap layarnya tapi hassilnya tetap, dia memastikan kalau kaki Eun Jae...
Kemudian Eun Jae masuk dan dan menanyakan hasilnya. Pak Cho hanya diam saja. Eun Jae pun meminta Pak Cho untuk mengirikan hasilnya jika sudah ada dan menutup kembali pintu ruangan Pak Cho.

Pak Cho memanggil Eun Jae kembali dan memintanya untuk duduk dan melihat hasilnya bersama. Eun Jae masih di depan pintu dan bertanya “kenapa? Apa itu terlihat buruk?” akhirnya Eun Jae pun masuk dan duduk di depan monitor.
Pak Cho memperlihatkan hasil X-Ray kaki Eun Jae. Eun Jae kaget saat melihatnya dan bertanya “apa... ini hasil milikku?”. Pak Cho bingung mau mengatakan apa, EUN Jae pun bertanya kemabli “apa ini milikku?”. Pak Cho mengatakan untuk mengambil pemeriksaan X-Ray ulang. Eun Jae menghela nafasnya dan terlihat pasrah.

Kapten sedang memeriksa peralatan di kapal. Setelah selesai dia kangsung melihat para awak kapal yang sedang mengikat tali kapal. Kapten meminta mereka untuk mengikatnya  dengan kuat, karena anginnya sangat kencang .

Saat Eun Jae dan Pak Cho keluar dari ruang pemeriksaan X-Ray, diluar sudah banyak petugas kapal yang bersiap untuk pulang ke asarama, dianatara mereka ada nya bertanya kepada Eun Jae dan Pak Cho “kenapa kalian belum ganti pakaian? Bukannya kalian mau pulang juga?”.
Eun Jae berkata dengan gugup, kemudian Pak Cho meminta mereka untuk pukang duluan karena Eun Jae masih ada urusan yang harus dikerjakan sekarang juga. Hyun tak picara sedikitpun, dia terus menatap Eun Jae.
Jae Geol mengatakan kepada Eun Jae untuk melakukan pekerjaannya di asrama saja. Pak Cho sedikit marah dan berkata “aku bilang kalian pulang duluan saja”.
Jae Geol : aku mengingatkan kalian berdua. Karena kalian berdua kan yang bertanggung jawab untuk makan malam nanti.
“iya, nanti kita akan makan apa jika kalian masih kerja di kapal?”
Pak Cho marah dan meminta mereka membeli sesuatu untuk makan malam “kalau kalian kelaparan, melewatkan satu kali makan malam saja tidak akan membunuh kalian”. Eun Jae meminta Pak Cho untuk pulang bersama mereka. Tapi pak Cho mengatakan dengan tergas “kita belum selesai bicara”.
Eun Jae : Tuan Cho...
Pak Cho : dengarkan aku. Kenapa kalian tidak mau mendengarkan aku?
Mereka saling menatap karena tidak pernah melihat Pak Cho smarah itu.

Hyun, Jae Geol dan Joon Young berjalan di kapal, tiba-tiba Joon Young bertanya tentang hubungannya dengan Eun Jae “Hyun, apa kau tidak ketahuan?”
Hyun : apa maksudhmu?
Joon Young : apa dia tahu soal bhubunganmu dengan dokter Song?
Jae Geol tersenyum mendengar pertanyaan konyol Joon Young. Kemudian Jae Geol bertanya tentang pembicaraan Pak Cho dan Eun Jae “apa mereka serius?” Hyun tak mengatakan apapun dan melihta mereka dari kejauhan.

Di ruang pemeriksaan X-Ray. Eun Jae dan pak Cho sedang membahas hasil X-Ray kaki Eun Jae. Eun Jae bertanya “apa ini adalah osteosarcoma, bukan? (osteosarcoma: salah satu jenis tulang ganas)” Pak Cho mengatakan bahwa Eun Jae perlu Biopsi untuk memastikannya (Biopsi: pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium).
Eun Jae hanya tersenyum. Kemudian pak Cho meminta Eun jAe mengikutinya untuk melakukan biopsi. Eun Jae mengatakan bahwa dia akan menghadapainya.
Pak Chu : apa maksudmu?
Eun Jae tidak ingin kalau yang lain mengetahui penyakitnya. Pak Cho “kenapa? Apa kau takut menjadi gangguan? Siapa yang peduli? Kita ini keluarga.
Eun Jae : aku tidak meminta bantuan sebagai kolega. Aku tidak meminta sebagai dokter. Aku hanya seorang pasien yang meminta seorang profesional medis untuk menyimpan rahasia catatan medisnya.
Eun Jae memohon kepada Pak Cho untuk merahasiakan penyakitnya. Dengan berat hati pak cho menyetujuinya, tapi dia meminta Eun Jae untuk melakukan biopsi. Dan Eun Jae pun yakin akan melakukan biopsinya.

Eun Jae dalam perjalanan pulang. Dia berjalan sendirian sambil mengingat saat-saat kakinya sakit dan hampir terjatuh.

Setelah itu Eun Jae duduk di sebuah taman, dia masih mernungi penyakit yang dia derita. Ponsel Eun Jae terus berdering, namun Eun Jae membiarkan panggilan tersebut.

Seekor anjing sedang mengigit sebuah berkas. Kemudian Jae Geol dan Joon Young menghentikannya. Joon Young mengira kalau tukang pos yang melepmarkan surat kabarnya. Jae Geol berkata kepada anjing yang sedang digendong Joon Young “ada apa denganmu? Kenapa kau selalu makan kertas?”.
Joon Young : surat siapa itu?
Jae Geol : hanya anjing ini yang tahu, karena dia sudah mengunyah dan masuk ke dalam perutnya.
Anjing itu makan alamat pengirim dan nama penerimanya. Jae Geol dan Joon Young terlihat sangat kesal, dan mereka pun mebawa surat kabar tersebut ke asrama.

Setiba di asrama, Jae Geol dan Joon Young , menyimpan barang belanjaan untuk makan malanya, dan setelah itu mereka membuka surat kabar tersebut.
Dalam surat itu tertulis “Rumah Sakit Royal London” Joon Young mengira kalau itu pasti dari inggris. Jae Geol menemukan surat yang tertuju untuk Eun Jae.
Kemduian Hyun menghampiri mereka dan bertanya “apa semua ini?”
Jae Geol : apa dokter Song melakukan sesuatu yang darurat di RS Inggris?
Hyun kaget, dan Jae Geol pun menunjukkan sebuah surat yang tertuju pada Eun Jae. Eun Jae membacanya, tapi dia belum mengetahui itu sebelumnya. Joon Young mengeira kalau pak chomarah tadi karena dia tidak ingin Eun Jae pergi dari Kapal. Jae Geol bilang kalau apa yang dikatakan Joon Young itu masuk akal.

Pak Cho sedang minum Soju sendirian di pinggir jalan, tapi suasana disana sangat ramai karena banyak orang yang minum soju dengan rekan-rekannya. Pak Cho memikirkan penyakit ganas yang di derita Eun Jae.

Eun Jae ada di ruang operasi, dia meraba setiap sudut meja dan alat untuk operasi, dia mengingat semua operasi yang pernah dia lakukan di ruangan tersebut. Kemudian Eun Jae mencoba berbaring di meja operasi dengan meneteskan air matanya. Eun Jae merenungi penyakit yang dialaminya sekarang ini.

Kemudian Eun Jae membuka semua alat bedah, Eun Jae mengoleskan krik di kakinya, dia bersiap seperti akan melakukan operasi, dan ternyata Eun Jae akan membedah kakinya sendiri. Dia menyuntikan obat ke kakinya dengan jarum yang sangat besar. Eun Jae membedah kakinay sendiri, dia terlihat sangat kesakitan sampai-samapai dia meneteskan air matanya.