Advertisement
Advertisement
Episode 34 Part 2

Suasana malam hari di dermaga Rumah Sakit kapal.

All images credit and content copyright: MBC


Hyun sedang memasak Ramyeon untuk Eun Jae, Eun Jae hanya memperhatikannya tanpa membantu Hyun. Hyun bertanya “apa kau ingi Ramyeon? Bukan yang lain?” Eun Jae mengatakan “jangan bilang begitu, Ramyeon juga sangat lezat”.
Saat Hyun akan menambahkan air ke dalam wajan, Eun Jae berteriak mengehntikannya “jangan, jangan terlalu banyak air, itu akan terasa hambar. Jangan memasaknya terlalu lama, jadi makanannya lembek. Hyun tertawa dan berkata “kau mengomel lebih dari aku” Eun Jae sudah memulai aroma Ramyeon yang sudah matak dan berakata “sepertinya ini enak”.

Eun Jae sanngat lahap menikmati Ramyeon buatan Hyun, Hyun terus memperhatikannya, Eun Jae bertanya “kenapa kau tidak makan? Apa yang kau lihat?” Hyun menyuruh Eun Jae untuk melanjutkan makannya dan bertanya “apa kau lapar sekali?” Eun Jae merenung sebentar dan menjawab pertanyaan Hyun “aku lapar hari ini”
Hyun : hari apa itu?
Eun Jae : hari pertamaku di rumah sakit kapal.

Eun Jae mengingat saat melihat rekam medis ibunya, di juga melihat bayangan ibunya di ruangan Hyun. Dia berkata “aku membaca entri yang akan kau buat di catatan mamaku, dan akhirnya aku melihat betapa sakitnya dia. Saat aku duduk disana ssendirian, aku merasa hatiku akan meledak dan saat itu membuatku gila. Aku merasa sangat kasihan kepada ibuku dan aku sangat merindukannya”
Eun Jae merenung dengan menekuk dagu di kepalan tangannya. Hyun menenangkannya dengan memegang dan mengusap tangan Eun JAE. Eun jAe mengatakan lagi “apa kau tahu apa yang lebih lucu?” Hyun menggelengkan kepalanya dan Eun jAe pun melanjutkan “saat itu, perutku mengeluarkan suara gemburuh yang begitu keras. Ibuku meninggal begitu mendadak, aku kehilangan pekerjaan di RS”.
Hyun : Ruang Operasi berantakan.
Eun Jae : aku benar, kebanyakan oarang dalam situasi seperti itu tida akan peduli dengan makanan, tapi aku sangat lapar. Dan aku menemukan sebungkus Ramyeon yang ditinggalkan seseorang.
Hyun : apa kau memasaknya?
Eun Jae : tidak, aku tidak bisa menemukan tombol power di kompor listrik, jadi aku makan Ramyeonnya mentah-mentah dengan bumbunya juga.
Hyun : itu sangat meneyedihkan.
Eun Jae : tidak asing dan canggung, aku merasa dicintai, itu belum lama, tapi hari itu terasa seperti masa lalu yang jauh.
Hyun : kenapa? Apa karena kamu betah di RS dan kau punya pacar yang bersedia memasak untukmu kapan saja?
Eun Jae mengangguk Ya, dan mereka berdua tersenyum manis. Eun Jae berpikir kalau dirinya harus berhenti bekerja di Rumah Sakit kapal. Hyun sangat kaget dengan pernyataan Eun Jae “apa? Apa yang kau katakan barusan?”
Eun Jae mengulangi perkataannya lagi “aku harus keluar dari Rumah Sakit Kapal”. Hyun bertanya “apa maksudmu?” Eun Jae hanya meminta maaf karena tidak menepati janjinya dan mengatakan bahwa dia tidak mengatan apa yang dikatakan Hyun kepada polisi. Eun jAe mengakui bahwa dirinya yang mengisap pernapasan bayi.
Hyun : apa?
Eun Jae : itulah cerita yang harus kau ikuti.
Hyun : kenapa kau melakukan itu?
Eun Jae : dengan begitu, kita bisa melindungi tempat ini.

Perawat Pyo sedang membaca artikel tentang Eun Jae dan berkata “apa dia dipecat dari RS lain dengan alasan yang sama karena berita negatif seperti ini, dan sekarang menargetkan kapal kita. Jika ini benar, RS. Kapal kita adalah tempat yang berbahaya. Dimana seorang dokter Psikopat memegang pisau bedah tanpa persetujuan wali?” pak Chu terlihat sangat resah, dia terus meondar mandir kesana-kemari dan berkata “itu tidak benar. Bagaimana jika dewan daerah mengeluh bahwa kita menyia-nyiakan anggaran?”
Kapten : kapan kita menghabiskan anggaran kita?
Pak Chu : kita melakukan operasi kepada orang lain secara gratis, kan? Itu hal pertama yang akan mereka katakan.
Perawat Pyo : orang orang ssudah mengatakan itu “apa RS. Kapal akan menegluarkan lampiranku secara gratis?”
Pak Chu : kau sudah membuang-buang anggaran pajak, berhentilah mengobati orang secara gratis, apa itu yang orang-orang katakan?
Perawat Pyo : Ya, kenapa? Semua orang melakukannya seperti itu.
Pak Chu : gubernur kita akan segera bertindak. Dia mungkin benar-benar akan amemutuskan untuk mengeluarkan kita dari pelayanan.
Kapten : mengeluarkan kita dari pelayanan? Itu hal yang salah.
Perawat Pyo : kita semua tahu itu.
Kapten : kita perlu membuat rencana. Apa rencana kita?
Kapten meminta mereka untuk memikirkan sebuah rencana, dan perawat Pyo mengatakan “ini adalah hal yang kejam untuk dikatakan, tapi sekarang kita membutuhkan satu orang untuk melakukan pengorbanan”
Kapten : satu orang ? siapa itu?
Pak Chu : maksudmu... Dokter Song?
Perawat Pyo : apa ada cara lain? Apa Kau ingin melihat kapal kita ditutup?
Mereka sangat bimbang harus mengambil keputusan seperti apa.

Hyun masih memegang tangan Eun Jae. Eun Jae mengatakn bahwa Doongsu Group akan melakukan segala cara agar bisa membuat kita keluar dari pelayanan. Kita tidak boleh memberi mereka alasan untuk melakukannya. Sekarang aku akan mengundurkan diri dari Tim dan itu adalah solusi terbaik. Mereka akan kehilangan kesempatan mereka. Mereka tidak akan lagi memiliki alasan untukk menyerang.
Hyun : dokter Song...
Eun Jae : seseorang harus tetap tinggal dan melindungi Tim. Jika kau gagal, semua pasien yang kau cari akan terpaksa menggunakan layanan itu. Kau tahu lebih baik dari siapapun, betapa berbahayanya sistem itu. Apa kau bisa mengatasinya?
Hyun meminta batas waktu selama dua hari atau satu hari untuk berpikir baru kita bisa membuat keputusan.
Eun Jae : dokter Kwak...
Hyun memohon kepada Eun Jae, dan Eun Jae pun menyetujui permintaan Hyun.

Ah Rim memanggil pasien Lee Jang Nim untuk melakukan pemeriksaan di ruangan Hyun, Hyun meminta pasien untuk melakukan pengobatan secara rutin, begerapa pasien sudah masuk ke ruangan Hyun, keadaan pasien terlihat semakin memburuh karena sudah lama tidak melakukan pemeriksaan rutin.
Pasien terakhir mengalami masalah dengan kakinya, Hyun meminta pasien untuk tidak menusuk lukanya denagn tusuk gigi karena jika terinfeksi pasien akan kehilangan kakinya.
Pasien : rawat aku, biar aku tidak memiliki lecet-lecet.
Hyun : kau penderita diabetes. Kau harus memperhatikan kadar gula darahmu. Ambilah obatmu dan hindari makanan manis atau asin. Dan oleskan lotion untuk menajga kelembaban kulitmu.
Pasien : Ya kalau aku ingat.
AH Ri membantu pasien menerapkan obatnya.

Eun Jae memperhatikan Hyun yang sedang berekrja, Hyun baru menyadari kalau dirinya diperkatikan dari tadi. Mereka saling memandang, tapi sekarang tidak ada senyuman seperti biasanya di wajah mereka. Keduanya terlihat murung.

Hyun sedang menenangkan diirnya di sisi pantai, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Hyun melihat kondisi bayi tersebut. Hyun menyapa bayi itu “Halo, apa kau ingat aku? Sulit Ya? Apa aku melakukan sesuatu dan meperburuk keadaanmu?” Hyun melihat nama bayi tersebut “Kim Han Sol”
“sekarang kau punya nama, tetaplah kuat Han Sol, kau masih kecil tapi kau sedang bertempur di samping kami. Kau berpegang pada kehidupan dan terus bertempur. Begitulah cara kau datang ke dunia ini, maka dari itu, sekali lagi.... di tempat ini, dunia kita sangat sulit. Tapi tetap saja, itu adalah tempat yang layak kau datangi. Ada beberapa hal yang indah juga”.
Selama di ruangan NICU mata Hyun berkaca-kaca, dia terlihat sangat sedaih melihat kondisi bayi tersebut.

Eun Jae menunggu Hyun di depan pintu NICU. Akhirnya Hyun keluar dan Eun Jae langsung bertenya “bagaimana kau melihat bayinya?”
Hyun : Ya. Namanya Han Sol.
Eun Jae : apa yang akan kau lakukan?
Hyun : kita harus melindungi RS. Kapal.
Eun Jae setuju dengan apa yang dikatakan Hyu.

Hyun datang ke kantor polisi untuk menjalani peneylidikan. Hyun melihat detektif yang menyelidiki Eun Jae. Dia bertanya “apa kau Detektif Kim?”
Detektif : Ya.
Hyun : aku adalah dokter Kwak Hyun dari RS. Kapal.
Detektif : kenapa kau beretmu denganku?
Hyun : Hwang In Kyung. Beberapa fakta tentang operassi Caesar harus diluruskan. Aku disini akan meluruskan faktanya.
Hyun menatap detektif dengan tatapan yang sangat tajam.