Advertisement
Advertisement
Episode 26 Part 2

All images credit and content copyright: MBC


Young Eun berada di sebuah club malam, dia terlihat sangat asyik berjoged dengan meminum segelas bir. Ternyata Ji-Eun ada disana juga bersama temannya, namun mereka hanya minum saja sambil ngobrol.
Tiba-tiba Ji-Eun melihat Young Eun asyik berjoged dan berkata “kacau sekali” temannya tidak mengerti apa yang dimaksud Ji-Eun barusan dan tertuju pada siapa perkataanya itu. Ji-Eun mengtakan bahwa ada mantan pacar kakaknya sedang asyik di bawah “dia sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu.
Temannya membalikkan perkataan Ji-Eun “apa tidak masalah orang yang sudah terikat berada disini malam-malam?” dengan senyuman mengejek.
JI Eun : pertunanganku masih dua minggu lagi, dan aku belum terikat sebelum tunangannya terjadi.

Ji-Eun memberitahu ibunya bahwa dia melihat Young Eun di Club. Ibunya sangat kesal dengan kelakuan Young Eun yang semakin menjadi. Ji-Eun menerima telpon dari kakaknya (Hyun), dia pun langsung mengangkatnya dan dengan semangat dia akan memberitahu apa yang dia lihat di Club malam tadi. Namun ibu menghentikannya dengan membawa ponsel Ji-Eun dan bicara dengannya.
Ibu :mengkritik kesalah seseorang yang juga kau miliki, dia ada disana juga. Dia mengeluh ada tunangannya disana.
JI Eun : ibu (ibu menghiraukan perkataannya dan lanju bicara denagn Hyun)
Hyun meminta ibu untuk mengurus masalah JI-Eun dan pacarnya, ibu menahan panggilan Hyun dan mengancam Ji-Eun untuk tidak mengatakan kepada Hyun tentang Young Eun tadi, dengan ancamana akan memberikan mahar setengahnya. jI-Eun pun setuju dengan perkataan ibunya barusan.

Ibu minum air dingin dari kulkas, dia tidak menyangka kenapa anaknaya (Hyun) bisa menykai Young Eun dan terus di bodohi Young Eun. Ibu sangat kesal dengan kelakuan Young Eun terhadap putranya.

Hyun  meminta Ji-Eun untuk datang mengunjungi ayah dan mengajak tunangannya untuk diperkenalkan kepada ayah.
Ji Eun : apa kau gila?
Hyun : Ji Eun.
Ji Eun : kapan kau akan berhenti merawat dia?
Hyun : aku melakukan ini untukmu, bukan demi ayah. Aku ingin aku bahagia (JI-Eun terlihat sangat kesal) menurutmu berapa lama kebohongan akan bertahan? Kau menikahinya karena cinta. Maka kau juga harus jujur padanya. Kemudian dia akan membalasnya.
Ji-eun masih belum mengatakan apa-apa lagi, Hyun pun meminta jawabannya. Dan Ji-Eun masih akan memikrkan saran kakaknya.

Jae Geol dan Eun Jae masih berada di tempat makan. Setelah mereka minum sedikit Soju, Jae Geol memulai pembicaraan intinya meraka makan malam bersama.
Jae Geol : kau meluangkan waktu yang sangat berharga dan menawarkan untuk mentrakturku makan malam, itu berarti kau punya kabar, apa perkiraanku salah?
Eun Jae : kau benar.
Jae Geol : apa itu? Sebuah lamaran?
Eun Jae : bagaimana kau tahu? (Jae Geol Kaget)
Jae Geol : jadi beginilah rasanya. Aku tahu ini lelucon, namun jantungku berdegup kencang saat mendengarnya. Aku sudah bersikap aneh belakangan ini.
Eun Jae : aku sangat menyukai Rumah Sakit Geoje Jeil (Gae Jeol heran kenapa Eun Jae bisa sejujur itu) aku ingin memilikinya. Sesuatu yang kuinginkan bahkan melebihi rumah sakit adalah IBUMU. Jika aku bisa, aku akan membuat ibumu menjadi milikku, tapi... tapi itu bukan kau (JAE Geol hanya terdiam) untuk menikahi seseorang, kau harus mencintai orang tersebut, tapi aku minta maaf karena tidak bisa melakukannya.
Jae Geol : jangan meminta maaf. Masih terlalu dini untuk menyesal. Kau tidak mempunyai niat untuk mencintaiku atau kau tidak peduli dengan cinta? (Eun Jae terus menatapnya) mana yang benar?
Eun JAE belum menjawabnya, dia malah terus minum bir, Jae Geol pun tak henti memperhatikannya, dan akhirnya Eun Jae menjawab “keudanya. Aku tidak peduli dengan cinta. Tapi jika aku berubah, aku tidak akan merasakan apapun terhadapmu”
Jae Geol : bagaimana bisa kau sangat yakin dengan ucapanmu? Kau terdengar seperti ahli bedah dengan protokol yang sempurna, bagaimana kau sangat yakin? Apa kamu tahu bahwa aku bukan jodohmu?

Jae Geol meminta alasan Eun Jae memberikan jawaban seperti tadi, Eun Jae masih belum memberikan alasan apapun “ayo katakan, apa aku tidak tahu? Dan haruskah aku memberitahumu?” Eun Jae masih terdiam. Jae Geol pun memberikan alasan Eun Jae.
Jae Geol : karena kamu mencintai orang lain. Kau tahu siapa orang itu? Itu sebabnya kau sangat yakin bahwa aku bukan jodohmu. Siapa dia? Kwak Hyun?
Dengan lantang Eun Jae menjawab “tidak, bukan dia” Eun Jae mengatakan itu sambil mengalihkan pandangannya dari Jae Geol.
Jae Gol : jangan berpaling, lihat padaku. Lihatlah padaku dan katakan. Sungguh bukan dia?
Eun Jae : bukan.
Jae Geol sangat greget, karena Eun Jae masih belum mau jujur dengan perasaan yang sebenarnya “lalu, siapa dia? Apa artinya dia bagimu?”
Eun Jae : rekan kerja dan teman.
Jae Geol semakin bingung : rekan kerja dan teman? Kenapa kau tidak memberitahu dia kalau Nona Choi tidak sakit dan sedang membohonginya? Kau harus memberitahunya jika dia temanmu, lalu kenapa? Kau tidak ingin temanmu ditipu? Atau malah merusak hidupnya karena seorang penyihir. Tapi tetap saja kau tidak berniat untuk memberitahunya.
Eun Jae : itu...
Jae Geol : karena kau tidak ingin dia merasa malu? Tidak. Kau tidak ingin terlihat seperti wanita pecemburu seperti yang lain. Kau tidak ingin orang yang kau suka memandang ssikapmu. Ekspresimu seperi itu, dan kau menyebut dia rekan kerja? Kupikir yang kau lakukan padanya lebih buruk dari yang kau lakukan padaku.
Jae Geol pun pergi keluar karena dia kesal, Eun Jae hanya diam saja dan tidak merespon perkataannya sedikitpun. Sepertinya dia sudah tahu bagaimana perasaan Eun Jae kepada Hyun dan alasannya tadi menjawab seperti itu.

Jae Geol berjalan menuju mobilnya, selama berjalan dia terus bicara “aisshhh, dasar bodoh. Kenapa kau berkata begitu? Aku tidak mengerti, kenapa kau berkata begitu padanya?” karena terlalu kesal dia pun meninggalkan Eun Jae sendirian di kafe, meskipun seblum pergi dia memikirkan banyak pertimbangan.

Eun Jae duduk di halte bis, dia terlihat sangat kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya.

Eun Jae akhirnya sampai di rumah sakit kapal. Sebelum masuk ke ruangannya, dia pergi melihat Hyun di ruangannya yang sedang sibuk memerikas pekerjaanya. Kemudian Hyun menelpon pasien untuk menanyakan kondisinya, dan menyarankan pasien untuk minum obat dan banyak beristirahat. Saat Hyun sedang menelpon, Eun Jae pun bersandar kebingungan di depan ruangannya.

Hyun menelpon Geun Jae, dia menanyakan kondisnya sekarang. Geun Jae berbohong kepada Hyun, bahwa dia sudah merasa baik setelah minum obat bahkan dia juga tidak terkena flu. Hyun Juga menanyakan kondisi ibunya, Hyun meminta Geun Jae untuk tidak segan menghubunginya kalau terjadi apa-apa. Hyun benar-benar dokter idaman, dia meminta pasien untuk menghubungi nomor pribadinya agar bisa terhubung langsung.

Hyun pun melanjutkan pekerjaannya, dan ternyata Eun Jae masih terus memperhatikan Hyun dari kejauhan, tanpa ingin menghampirinya.

Hyun sedang bersiap untuk memeriksa pasien di rumahnya, dia akan memeberikan anema karena takut pasien terkena borok.
Ah Rim : putrinya kan ada bersama dia? Saat itu tidak ada orang lain, kau bisa merawatnya, tapi...
Hyun : borok tidak mudah untuk di rawat. Selain itu, dai tidak mengangkat telepon sejak kemarin.
Saat Hyun mulai melangkah, Ah Rim menahannya dan memberitahu Hyun bahwa dia lupa membawa kasaa-nya. Dan Ah Rim juga akan ikut bersamanya. Ah Rim ingin ikut bersamanya karena Hyun bertindak seperti Dokter Schweitzer dalam film favoritnya dan dia merasa harus bertindak seperti Nightingale. AH Rim pergi untuk mengambil kassa.

Geun Jae sedang menikmati udara segar di teras rumahnya. Hyun dan Ah Rim akhirnya tiba di rumah Geun Jae. Mereka langsung menyapanya dan meneyakan kondisi ibu dan dirinya. Mereka kaget saat Geun Jae tidak menegnalinya, Hyun mencoba mengingatkannya tentang dokter di rumah ssakit kapal, namun dia tetap tidak meneganalinya.
Saat AH Rim memcoba memegang tangnnya, ibu itu mengamuk dan langsung menjauh dari mereka, Hyun dan Ah Rim kaget melihat cairan keluar dari tubuhnya dan tiba-tiba dia lupa dengannya.

Kemudian temannya datang, dan Geu Jae juga tidak menegnali temannya itu.
Penyelam : kau mengidap Alzheimer? Ibumu sedang sakit, bagaimana ini kalau kau juga sakit?
Tiba-tiba Geun Jae pingsan dan mereka mulai panik.

Hyun menggendong Geun Jae ke rumah sakit kapal meski perjalanan sangat jauh. Mereka sangat khawtir dengan kondisi Geun Jae yang sekarang.