Advertisement
Advertisement
Episode 26 Part 1

All images credit and content copyright: MBC


Hyun dan Eun Jae saling memandang setelah memeriksa pasien, Eun Jae bilang “Pneumotoraks? (Pneumotoraks, atau gas dalam rongga Pleura)”
Hyun : Ya. Kita harus melakukan thoracentesis (Thoracentesis, memasukkan jarum di dada untuk tujuan pengobatan)
Hyun langsung merobek sedikit bajunya, dan Eun Jae bersiap untuk melakukannya penyuntikkan jarum di dada pasien. Setelah menyuntikan obat di dada pasien Eun Jae mengecek kondisi pasien “apakah kamu bisa merasakan ini?” sambil memegang tangan pasien, sepertinya pasien tidak merasakannya dan tidak bisa mengepalkan tangannya juga.
“bisa merasakan kaki kamu? Coba gerakkan kakinya” masih tetap belum ada reaksinya, seeprtinya Hyun dan Eun Jae sudah mulai paham dengan kondisi pasien.
Eun Jae : seberapa dalam airnya?
Penyelam : itu lebih dari 20meter.
Eun Jae : berapa lama pasien di dalam air?
Penyelam : sekitar 2jam setengah.
Hyun : setahuku, dia lebih mungkin memiliki dysbarism daripada emboli udara.
Eun Jae : kita harus memindahkan pasien untuk pengobatan oksigen hiperbarik sekarang (Emboli udara, gelembung udara menghalangi pena atau arteri)
Mereka pun memindahkan pasien ke Rumah Sakit untuk tindakan lebih lanjut.

Di RS. Geoje Jeil, pasien di bawa ke UGD dengan bantuan petugas yang ada disana. Hyun berada di sebuah ruangan berbentuk kapsul untuk mengobati pasien. Di sisi lain Eun Jae sedang mengatur suhu ruangan tersebut.

Eun Jae melihat ke dalam, dan Hyun memberi tanda untuk segera dimulai, Eun Jae pun menyalakan oksigennya.

Geun Jae menerima teplepon dari anaknya, dia meminta Geun Jae untuk menjual rumah neneknya. Geun Jae : jika kau menjual rumahnya, lalu, nenek akan tinggal dimana?
“dia bisa pergi ke sanatorium, dia mungkin akan mati sebentar lagi”
Geun Jae : bagaimana bisa kau bicara seperti itu terhadap nenekmu? Apa kamu mendoakan agar nenek segera mati? Seorang dokter di kapal rumah sakit yang merupakan orang asing baginya, bahkan memberinya enema. Kau bahkan belum memegang tangannya sekalipun dalam 20th. Beraninya kau memintaku untuk menjual rumah ini?
Geun Jae langsung mematikan telponya, dia sangat kesal dengan kelakuak putranya, dia juga terlihat sangat kasian dengan nasib ibunya saat ini.

Geun Jae pergi untuk menenangkan diri sekaligus mencari udara segar. Tiba-tiba seorang penyelam datang meminta bantuan untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Geun Jae : apa maksudmu?
“Choon Son mengalami kecelakaan. Aku terlalu takut pergi kesana sendiri. Suamiku sedang berada di luar kota sekarang”
Geun Jae : tidak. Aku sedang suram untuk hal itu.
“Geun Jae...”
Geun Jae marah di panggil Geun Jae dan membentaknya “namaku Geun Hee!!!!!”
“kubilang, Choon Son mengelami kecelakaan, dia lumpuh sekarang, dan mungkin dia tidak akan bisa berjalan lagi”
Geun Jae : apa bedanya jika aku pergi? Aku bukan pemberi mukjizat. Aku tidak bisa membuat dia berjalan lagi!
“dasar gila. Choon Son bertindak seperti itu untuk sebuah alasan. Kau bukan teman kamu lagi. Aku tidak ingin melihatmu lagi!!!” dia pergi sambil menangis karena skit hari dengan sikap temannya.

Setelah penyelam itu pergi, tiba-tiba Geun Jae merasa pusing dan wajanya semakin pucat, sepertinya dia akan pingsan.

Di Rumah Sakit Geoje Jeil, penyelam itu akhirnya memberanikan diri pergi ke RS sendirian, dia langsung mencari rauangan Choon Son.

Eun Jae masih terus mengontrol suhu ruangan itu, kemudian dia melihat Hyun yang sedang fokus melakukan pengobatan kepada pasien tersbut, dia terlihat sedang memasukkan selang ke perut pasien.
Pandangan Eun Jae terlihat sangat kagum dengan Hyun. Kemudian Hyun melihatnya dan memberi tanda bahwa semuanya baik-baik saja.

Hyun akhirnya keluar dari ruangan tersebut, dan Eun Jae menanyakan kondis pasien sekarang, Hyun Pun memberitahunya bahwa kondisi pasien sudah stabil.
Eun Jae : sekarang tinggal menunggu, apakah kelumpuhan akan hilang.
Hyun : pasien biasanya lumpuh tulang belakang bawah. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan lengannya. Ada banyak nitrogen dalam aliran darahnya.
Eun Jae : menurutmu, apa dia bisa berjalan lagi?
Hyun : kita lihat saja nanti.

Penyelam sedang menunggu pemeriksaan Choon Son, dan akhirnya Chon Son keluar dari ruangan bersama dr. Song dan dr. Kwak.
Penyelam : bagaimana keadaanmu? (Choon Son hanya diam saja) kenapa? Apa kau tidak bisa berjalan lagi? Dokter...
Choon Son : On Ja (dia mulai menggerakan kakinya) aku baik-baik saja (sambil menangis)
Dan Akhirnya Choon Son sudah melewati masa lumpuhnya dan bisa berjalan kembali seperti biasanya. Mereka pun berpelukan dengan sama-sama menangis bahagia. Eun Jae dan Hyun tersenyum, senang melihat pasiennya bisa berjalan kembali.

Eun Jae dan Hyun sudah mengganti pakaian dinasnya, mereka sedang berjalan di lorong rumah sakit, sepertinya mereka akan kembali ke asrama.
Hyun : kejadian tadi itu sangat dramatis.
Eun Jae : Ya, aku sangat senang, dia bisa berjalan lagi.
Hyun : ini sebabnya kita menjadi dokter, kan? (Eun Jae tersenyum dan mengangguk “Ya”).

Tiba-tiba Jae Geol datang ke Rumah Sakit dan bilang “selamat, sudah menyelamatkan pasien” Jae Geol melemparkan sebotol minuman untuk Hyun. Dia berbicara kepada Eun Jae “ayo pergi” Eun Jae kaget “pergi kemana?” sepertinya Eun Jae lupa dengan ajakannya tadi siang.
Jae Geol : waaaahh, benar-benar mengecewakan. Kau bilang akan makan malam denganku dan kau lupa?
Eun Jae : oh, aku... (Hyun cemburu melihatnya)
Jae Geol : jadi atau tidak?
Eun Jae langssung melihat Hyun, dan Jae Geol pun mengajak Hyun untuk ikut makan malam dengannya “kau belum makan, kan? Ikutlah dengan kami. Traktiran dr. Song, dan dia akan bercerita juga” Eun Jae langsung melototinya.
Jae Geol : apa kamu keberatan, jika Hyun ikut?
Eun Jae : tidak, kupikir kita harus pergi sendiri (Hyun hanya bisa diam dan melihatnya)
Jae Geol : sayang sekali.
Hyun : kalau begitu, kau harus segera pergi. Aku juga sudah punya rencana (Eun Jae tak berkata apa-apa lagi, sepertinya dia kesal mendengar Hyun punya acara)
Jae Geol : kau naik apa kesana? Aku akan mengantarmu kemana pun kita bisa.
Hyun : Tidak. Aku tidak perlu pergi jauh. Aku bisa berjalan (mendekati Eun Jae) nikamati makan malammu.
Hyun pun pergi dan mereka hanya terdiam sambil melihat Hyun berjalan keluar.

Jae Geol ingin membukakan pintu mobil untuk Eun Jae, namun Eun Jae keburu membukakan nya sendiri, Jae Geol pun menahan pintu itu, Eun Jae pun bertanya “kita akan pergi kemana?”
Jae Geol : ke suatu tempat yang bagus (menutup pintu nya dengan sangat keras, karena dia kesal pada Eun Jae)

Eun Jae dan Jae Geol sudah dalam perjalan, di sisi lain Hyun sedang jalan kaki sambil melamun. Tiba-tiba Eun Jae melihatnya dan dia terus memperhatikannya, Jae Geol juga melihat Eun Jae yang sedang memperhatikan Hyun berjala.

Akhrinya Jae Geol berhasil membawa Eun Jae ke suatu tempat, Eun Jae marah “katanya kau akan membawaku ke suatu tempat yang bagus, tapi kau malah membawaku ke tempat seperti ini?”
Jae Geol : kau tidak mau makan disini? Kamu menyukai tempat ini (Eun Jae pun terdiam)
Jae Geol mulai memesan makanan “bolehkan aku memesan sesuatu yang mahal?” “kau mau memesan apa Eun Jae?” Eun Jae pun tersenyum. Sepertinya dia suka dengan tempat itu.

Nona Choi sedang bersiap untuk berangkat ke bandara, Hyun menawarkan diri untuk menawarkan diri untuk mengantarkannya ke bandara, namun Nona Choi menolaknya “aku lebih suke seperti ini”
Hyun : kau yakin tidak ingin menemui Dokter Go?
Nona Choi : aku lebih suka Rumah Sakit Saewon. Saudara ayahku sudah mengatur semuanya. Dia di departemant yang berbeda, tapi pamanku bekereja disana.
Huyun : baiklah kalau begitu. Siapa yang akan menemuimu di bandara?
Nona Choi : Jeong Rim. Aku akan menghubungimu, saat aku tiba di kamar rumah sakit.
Hyun pun mengerti dan Nona Choi pergi ke bandara dengan taksi. Di dalam taksi Nona Choi masih melihat Hyun, bahkan dia sampai meneteska air matanya, sepertinya dia merasa bersalah telah membohonginya.

Ibu Hyun sedang membaca artikel tentang Young Eun yang bertugas di Rumah Sakit Kapal di Pulau Geoji, dia kaget setelah membaca artikel itu. Dia pun akan menghubungi Hyun.

Saat tiba di ruangannya, Hyun langsung mengecek pekerjaannya. Dan dia juga langsung mendapat panggilan dari ibunya “Ya, ibu?”
Ibu : ya, ibu?
Hyun : apa ada masalah?
Ibu : apa yang salah denganmu, bukan aku (sambil teriak, sampai-sampai Hyun menjauhan ponsel dari telinganya karena sangat keras) kenapa Young Eun ada disana? “Kapal Rumah Sakit Geoje.  Gambar penuh kemanusiaan” kau pikir itu cocok dengan dia?
Hyun : ibu... (Hyun selalu sabar menghadapi ibunya)
Ibu : sedang apa dia disana? Untuk apa aku betanya? Jawabannya sudah jelas. Dia menempel padamu, kan? Dan kau membawanya kembali seperti orang bodoh?
Hyun : tidak seperi itu.
Ibu : kalau begitu kirim dia ke Seol sekarang juga. Kenapa kau tidak menjawab? Apa aku sedang berubah pikiran? Inilah kenapa ibu menghubungimu, bodoh. Jika kau tidak bisa, aku sendiri yang akan melakukannya. Aku akan memastikan dia menjauh darimu, ini untuk kebaikanmu Huyn.
Hyu : ibu tidak bisa.
Ibu : aku tida bisa? Kenapa aku tidak bisa? Apa kau sudah takluk padanya?
Hyun : dia sedang sakit.
Ibu : sungguh? Ada apa dengan dia? Dia sekarat atau apa?
Hyun : dia menderita Leukemia.
Ibu (kaget) : apa? Dia mengidap apa?
Hyun : jadi...
Ibu : dia berbohong?
Hyun : ibu...
Ibu : ada lebih banyak alasan untuk membiarkannya pergi. Dia membuatmu patah hati berulang kali di masa lalu, kau ingin merawat dia juga?
Hyun : berpura-puralah ibu tidak tahu untuk saat ini, aku harus pergi (Hyun mentup telponnya)

Ibunya terlihat sangat kesal “Young Eun” dia mengingat kembali saat berpapasan dengan Young Eun di rumah sakit. “apa itu sebabnya di terlihat kebingungan saat di rumah sakit”.