Advertisement
Advertisement
Episode 25 Part 2

All images credit and content copyright: MBC


Nona Choi sedang menelpon dengan Jeong Rim, dia membertiahu bahwa Hyun belum mengetahui kebenarannya dan dia selalu membahas tentang pengobatan “Jika dia memberitahu dokter medis korea, tidak lama lagi dia akan membertitahu Hyun juga” Nona Choi melihat Eun Jae naik ke atas kapal “Jeong Rim , nanti aku telpon lagi”

Nona Choi : itu kau? Kau memberitahu dokter medis korea?
Eun Jae : memberitahu dia apa?
Nona Choi : kau tahu apa maksudku.
Eun Jae : Ya.
Nona Choi : jadi itu benar.
Eun Jae : percaya atau tidak, aku tidak memberitahunya. Dia kebetulan mengetahuinya.
Nona Choi : apa maksudmu?
Eun Jae : kupikir dai menguping kita di ruang sebelah.
Nona Choi : haruskah aku percaya itu?
Eun Jae : memang itu kenyataanya. Jika kau secemas itu, kenapa kau melakukannya? Belum terlalu terlambat untuk memberitahu Hyun.
Nona Choi : memberitahu dia apa? Beritahu semuanya, agar mengacaukan diriku sendiri? Kenapa aku harus melakukannya? Kendalikan dr. Kim dan jangan campuri urusanku.
Setelah Nona Choi pergi, Eun Jae menangkan pikirannya sambil melihat pemandangan lutan yang sangat indah.

Jae Geol sedang mempraktekan teknik akun puktur pada patung-nya, dia tampak fokus sekali sampai-sampai tidak menyadari Eun Jae masuk ruangannya.
Eun Jae : kenapa kau melakukan ini kepada Nona Choi?
Jae Geol : aku menakuti dia agar dia kesulitan.
Eun Jae : dr. Kim.
Jae Geol : seperti yang sudah kukatakan, aku ingin bermain adil. Aku akan memulai dengan banyak keuntungan daripada dr. Kwak. Dan itu tidak menyenangkan. Kau harus pergi, kecuali jika ingin akupunktur. Aku sedang belajar.
Eun Jae : kau punya waktu hari ini ? (Jae Geol langsung menatapnya) apa kamu ingin makan malam bersama?
Jae Geol : kedengarannya bagus.
Eun Jae : kau bisa memilih restorannya, aku tidka tahu apapu.
Eun Jae pun keluar dari ruangan Jae Geol. Jae Geol herang dengan sikap Eun Jae yang tiba-tiba ngajak makan malam bersama.

Hyun sedang mempelajari tentang penyakit Leukemia dengan sangat teliti. Tiba-tiba Hyun menerima panggilan dari Ji Eun.
Hyun : Halo Ji Eun.
Ji Eun : kau akan datnag akhir pekan ini?
Hyun : akhir pekan ini?
JI Eun : apa kau sudah lupa? Seharusnya kau menyesuaikan jas-mu untuk pertunanganku. Seong Won sudah mencobanya. Agar kita bisa makan bersama.
Hyun : bagaimana dengan ayah?
Ji Eun tidak menjawabnya dia malah melihat calon suaminya dan mengatakan “saudaraku sedang di kapal rumah sakit, jadi aku tidak bisa begitu mendengarnya.
Seong Won : ok, segera kembali.
JI Eun pindah tempat untuk membicarakan soal ayahnya dengan Hyun “kenapa kau membahas ayah?”
Hyun : beritahu keluarganya tentang ayah kita dan perkenalkan dirinya.
Ji Eun : Hyun.
Hyun : mari kita melakukannya.
Ji Eun : jangan. Aku akan membatalkan pernikahan dan kemudian bunuh diri.

Seong Won menghampirinya dan bertanya “apa ada masalah?”
Ji Eun : tidak.
Seong Won : lalu, kenapa kau terlihat sangat serius?
Ji Eun : dia tidak akan mencobanya keran sangat sibuk.
Seong Won : pria pasti sseperti itu, jadi jangan trelalu mencemakannya.
Ji Eun : tetap saja...
Seong Won : ayo pergi. Aku akan membelikanmu sesuatu yang enak. Aku harus kembali bekerja setelah makan siang.
Ji Eun masih kepikiran dengan perkataan Hyun yang harus memberitahu keluarga Seong Won tentang ayahnya.

Hyun juga mimikirkan adiknya yang keras kepala tidak mau memperkenalkan ayahnya kepada keluarga Seong Won.

Pengumuman di Kapal Rumah Sakit “hari ini akan ada vaksinasi flu, silahkan datang dan pastikan untuk mendapatkan suntikan vaksinisasi flu kalian semua.

Woon Gong memberitahu yang lain untuk bersiap-siap untuk memberikan vaksinisasi flu secara gratis.
Woon Gong : rumah sakit akan sangat ramai hari ini.
Hyun : aku takut.
Eun Jae : aku juga.
Woon Gong meminta mereka untuk bekerja keras dan penuh semangat melayani masyarakat yang berobat.

Seorang ibu sedang memetik sayuran di ladang, tiba-tiba ada dua orang penyelam lewan dan berkata kepada temannya “bukankah itu Geun Ja? Dia sedang memetik sayuran hari ini”
“dia sangat aneh. Apa yang dia kenakan sambil memetik sayuran?”
“biarkan dia istirahat, dai dari Seol”
“bukan, dia bukan dari Seol”
“bersikap baiklah padanya. Dia sudah lama tidak pulang kerumah”

Kemudian mereka menyapanya “Hei Geun Ja”
Geun JA : Geun Ja?
Penyelam : Geun Ja, kau sedang memetik sayuran?
Geun Ja : namaku Geun Hee, bukan Geun Ja. Aku sudah lama mengubah namaku. Jangan panggil aku Geun Ja.
“apa bedanya?”
Geun JA : apa?
“kapan kau tiba? Apa kau datang sendirian?
Geun Ja : tentu saja aku datang sendirian.
“kenapa? Ibumu sudah menunggumu sejak lama. Kenapa kau tidak membawa suami dan anakmu?
Geun Ja : kenapa mereka harus datang kesini? Apa kau tidak tahu, kalau kehidupan di Seol itu sibuk. Astaga... aku lupa. Kau menghabiskan seluruh hidupmu di pedesaan, jadi tidak akan tahu bagaimana kehidupan di kota.
“apa katamu? Beraninya kau bicara seperti itu”
“astaga. Hentikan. Kita bukan anak-anak lagi. Tida lama lagi aku 60th”
Geun Ja : kau tidak lihat, betapa agresifnya dia?
“kau duluan yang menyomnongkan diri”
“CUKUP!!! Kalian berdua harus datang ke rumahku malam ini”
Geun Ja : ada apa?
“makgeoli tua sangat enak. Dulu kau suka makgeoli yang kubuatkan di rumah”
Geun Ja : aku?
“tentu saja kamu, apa kamu tidka ingat? Setelah minum dengan gula, kau menangis dan sangat mabuk”
Geun Ja : kapan aku melakukannya?
“kau akan datang kan?”
Geun ja : tidak. Terima kasih. Belakangan ini aku tidak banyak minum. Aku hanya minum anggur saat tidak bisa tidur
“apa? Apa katamu?”
Dengan nada marah penyelam satunya lagi memperjelas “kau tidak tahu anggur? Lupakan tentang minum. Dia memberiku nasib buruk sebelum aku pergi menyelam” dia berteriak kepada temannya untuk segera pergi kalau ingin menyelam dan mendapatkan ikan.
“datanglah malam ini, aku akan menyiapkannya untukmu” Geun Jae melanjutkan memetik sayurannya.

Penyelam itu sedang berjalan menuju tempat penyelaman. Temannya bilang “bukankah kita harus ke rumah sakit kapal untul vaksinisasi?”
“kita tidak bisa menyelam setelah di vaksinisasi flu. Kau kampungan sekali”
“apa?”

Geun Jae sampai di rumah, dia langsung masuk dan menyapa ibunya yang terbaring sakit “ibu suka sayuran ini? aku akan memasaknya untuk ibu” Geun Jae trelihat sangat pucat, sepertinay dia lagi sakit namun tak dia rasakan.

Penyelam itu sedang bersiap untuk melakukan penyelaman, mereka mulai mencari kerang-kerang di dasar laut.

Di rumah Sakit Kapal sudah ramai dengan warga yang antri untuk di vaksinisasi, Geun Jae juga ada untuk di vaksinisasi. Hyun sedang memeriksa seorang kakek.
Hyun : kamu baik-baik saja pak, dan bisa melakukan vaksinisasi.
Ah Rim : ikuti aku ke taung injeksi.

Ah Rim membawa pasien ke ruang perawat Pyo untuk di suntik vaksinisasi.

Sekarang giliran Geun Ja untuk di perikasa sebelum di suntik vaksinisasi, saat masuk ruangan Hyun, Geun Jae langsung melihat catatan hasil pemeriksaan Hyun dan bilang “itu kau?”
Hyun : Ya?
Geun Ja : kau punya catatan dengan nama ibuku, Mo Mak Jeom, di selembar kertas itu.
Hyun : oh, kamu putrinya ternyata.
Geun Ja : ya. Setiap kali kami mengobrol di telpon, dia tidak akan berhenti membicarakan tentangmu. Aku selalu ingin bertemu denganmu, dan akhirnya sekarang bisa bertemu.
Hyun : dia terluka di sendi pinggulnya, bagaimana keadaanya sekarang?
Geun Ja : dia tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.
Hyun : seringlah ubah posisinya, untuk mencegah borok. Aku akan memberikan beberapa enema juga. Dia suka kesemek kering, jadi dia sembelitnya parah.
Geun Ja : astaga... kau tahu banyak tentang ibuku, kau jauh lebih baik dari anak bahkan cucunya sendiri.
Hyun : tidak. Tidak sama sekali. Apa ibu baik-baik saja? Tangan kamu sangta panas.
Geun Ja : aiggoo, aku hampir lupa tujuanku datang kesini. Aku sudah melakukan semua jenis pekerjaan selama disini, pasti aku terkena flu. Aku demam dan mengigil.
Hyun meminta Ah Rim untuk memeriksa suhu tubuhnya.
Ah Rim : suhu tubuhnya 37,3 derajat.
Hyun : kamu terkena demam ringan, sejak kapan kamu merasakannya?
Geun Ja : sepertinya, sekitar 3 atau 4 hari.
Hyun : bagaimana dengan gejala lainnya? Apa kamu pilek, batuk dan berdahak juga?
Geun Ja : aku batuk sesekali.
Hyun : bagaimana saat kamu menelan air liur, apa itu terasa sakit?
Geun Ja : Ya, sedikit.
Hyun pun melakukan pemeriksaan terhadap Geun Ja, setelah selesai memeriksanya Hyun mengatakan hasil diagnosisnya “pernapasan kamu tidak buruk, untuk saat ini, kupikir kamu menunjukkan gejala awal flu, minum obat selama beberapa hari, jika kamu masih mengalami demam dan merasakan hal yang sama, silahkan datang kembali. Kamu bisa datang kembali jika memungkinkan. Tapi jika tidak, silahkan pergi ke rumah sakit yang ada di darat”
Geun Jae : aku mungkin akan sembuh sebelum itu.
Hyun : tentu saja. Semoga cepat sembuh.

Penyelam dan dua orang pria khawatir Choon So belum naik juga, mereka terus meneriaki namanya “Choon So.....” ternyata sandal selam Choon So terjepit oleh batu karang, dia kesulitan untuk naik ke atas, dai berusaha membuka sabuknya dan akhirnya bisa di lepas.

Akhirnya Choon So kelihatan dan sudah mengapung dilautan, mereka berusaha mengangkatnya ke atas perahu meski sulit.

Kapten menerima telepon dari seseorang yang melapor, bahwa ada kecelakaan di laut. Penyelam berusaha menyadarkan Choon So, namun tidak bisa bahkan kakinya pun tidka bisa dai gerakkan, dan Choon So mulai tidak sadarkan diri. Telpon masih terhubung dengan kapal rumah sakit.
“ini gawat, pasien sudah lumpuh!”
Kapten : dimana kau sekarang? Apa dekat dengan posisi kapal rumah sakit? Iya iya, kami akan segera kesana.

Kapten membuat pengumuman “kita punya pasien darurat!!!” Hyun dan Eun Jae langsung berlari menuju pusat suara untuk mencari tahu.

“nama pasien Baek Choon Soon, wanita 58 tahun, dia seorang penyelam, tapi ada masalah saat mengapung, sekarang dia benar-benar lumpuh”
Eun Jae : berapa lama lagi petugas pantai akan sampai?
Woon Gong : 30 menit.
Hyun : Ayo pergi Eun Jae.
Hyun dan Eun Jae langsung lari menuju lokasi pasien. Pasien di ruang tunggu pun panik mendengar ada psien darurat.

Saat tiba di lokasi pasien, Hyun dan Eun Jae langsung memeriksa keadaan pasien, Hyun pun memeriksa mulutnya, dan setelah itu pasien muntah darah. Dan Eun Jae pun melihat Hyun karena mulai panik.