Advertisement
Advertisement
Episode 25 Part 1

All images credit and content copyright: MBC


Di tengah malam Woon Gong membangunkan Eun Jae yang sedang tidur pulas, dia terus menggedor pintu kamar Eun Jae sambil teriak “dr. Song ... dr. Song ...” dan akhirnya Eun Jae bangun “ada apa? Ada pasien darurat?” Ah Rim dan Perawat Pyo juga terbangun dan mereka juga penuh tanda tanya melihat Woon Gong.
Woon Gong : kita punya masalah besar. Aku tidak tahu harus bagaimana.

Tiga petugas kapal datang ke sebuah gedung tua, mereka terilat sangat kesal dengan mimik wajah yang penuh dengan kemarahan. Entah apa tujuan mereka datang ke geduh tua seperti itu.

Woon Gong dan Eun Jae pergi dengan sangat buru-buru. Bahkan Joon Young bertanya pun tidak mereka hiraukan. Jae Geol dan Joon Young bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi, kenapa mereka terlihat sangat panik.

Setelah Hyun pulang dari jogginya, tiba-tiba dia melihat Woon Gong dan Eun Jae lari sangat buru-buru, dia juga menjadi penasaran apa yang sedang terjadi dengan mereka.

Petugas kapal mendatangi sebuah tempat perjudian, dia langsung mendatangi orang-orang tersebut “siapa boss kalian? Dimana dia?” orang itu pun menunjukkan diaman bossnya. Boss-nya sangat terganggu dengan kedatangan mereka, apalagi dia sedang makan.
“kau boss-nya?”
“aku pemilik tempat ini”
“kau boss nya? Kau menjual organ tubuh manusia disini?”
“apa?”
“apa yang kau katakan kepada temanku? Kau menyuruh dia menjual organ tubugnya?”
“siapa nama temanmu?”
“Song Eun Jae, dokter bedah di rumah sakit kapal kami”

Pak Yang semakin marah dan meminta orang itu untuk melepaskan sendoknya dan berhenti berlagak, orang itu pun melemparkan sendoknya dan kemudian menendang wajah Pak Yang dengan sangat keras sampai terjatuh ke lantai.
Mulut Pak Yang berdarah, setelah menyadari kalau bibirnya berdarah, dia trelihta sangat ketakutan dan belum melakukan perlawanan lagi.

Kapten menanyakan tentang petugas kapal lain yang pergi ke tempat rentenir kepada perawat Pyo “apa kau membiarkan mereka pergi ke tempat rentenir?”
Perawat Pyo : Ya
Kapten : ini sangat mengerikan, kenapa kamu tidak menghentikan mereka?
Perawat Pyo : Pak Yang juga pergi kesana.
Kapten : bahkan Choon Ho tidak bisa menangani mereka. Rentenir itu sebagian gengster.
Kapten mengacak-ngacak keyboard Perawat Pyo, karena dia terlihat cuek dan fokus pada pekerjaannya “apa kau tidak mengkhawatirkan mereka?”
Perawat Pyo : tentu saja. Aku sangat khawatir.
Kapten : lalu kenapa kau bermain komputer dari tadi?
Perawat Pyo : aku masih harus mengurus pasien dan aku bisa apa?
Kapten : jika sesuatu terjadi pada Dr. Song dan pak Chu.
Kapten dan Perawat Pyo terus berdebat tentang masalah petugas kapten yang mendatangi tempat rentenir.

Saat itu ada yang membuka pintu kapal dan mereka kira itu Pak Yang dan yang lainnya, tapi ternyata dugaan meraka salah, yang datang saat itu adalah Nona Choi.
AH Rim : astaga... ku pikir dr. Song.
Nona Choi : kenapa kalian menunggunya? Apa ada masalah?
Ah Rim : itu bukan urusanmu, kau bukan bagian dari kami (lanjut pergi keruangan lain bersama Joon Young)

Hyun sedang mencoba menghubungi seseorang namun tidak di angkat, Nona Choi masuk ke ruangan Hyun.
Hyun : kau sudah pulang? Bagaimana dengan liburamu?
Nona Choi : bisakah kita ngobrol sebentar?
Hyun : bisa menunggu? Aku harus menelpon, ini sangat penting (pergi meninggalkan Nona Choi di ruangannya. Dia juga berpapasan dengan Jae Geol namun menghiraukannya)

Jae Geol mengejek Nona Choi “kau tampak kesal”
Nona Choi : apa?
Jae Geol : kau sangat takut kehilangan dia?
Nona Choi : dokter Kim.
Jae Geol : atau karena mungkin dia sudah tahu?
Nona Choi : maksudmu?
Jae Geol : menurutmu apa maksudku? (langsung masuk keruangannya)
Nona Choi sangat kesal dengan pertanyaan bodoh Jae Geol, dan itu juga membuatnya bingung, apa yang di maksud Jae Geol tadi.

Hyun masih terus menghubungi seseorang namun tak kunjung ada jawaban. Dia terlihat sangat khawatir, apa mungkin dia mengkhawatirkan Eun Jae karena tadi dia sangat terburu-buru dengan Woon Gong.

Eun Jae masih dalam perjalanan, dia terlihat sangat panik, akhirnya mereka sampai dan langsung berlari mencari tempat rentenir.
Di sisi lai Hyun masih terus menghubungi Eun Jae tapi tidak dapat terhubung. Dia sangat khawatir dengan Eun Jae “bagaimana jika terjadi sesuatu dengan meraka?”

Setiba disana ada seorang wanita berlarian sambil berteriak “aku takut!!!” mereka juga terlihat ketakutan keran melihat orang tadi dan teriakan dari dalam “aku akan membunuh kalian”
Mereka akhirnya memberanikan diri untuk masuk, Woon Gong dan Eun Jae perlahan menaiki tangga, Eun Jae terlihat sangat takut, Woon Gong menyuruh Eun Jae untuk menunggu dan dia yang akan membawa mereka.
Eun Jae : apa kamu yakin bisa melakukannya sendirian? (teriakan dari dalam masih terdengar dan membuat mereka semakin panik)
Woon Gong : mereka pasti membunuhku, apa mereka semua pingsan? (Eun Jae dan Woon Gong saling bertatapan.

Dan Eun Jae pun memberanikan diri naik ke atas dengan menutup matanya, setelah membuka matanya dia kaget melihat meraka.

Pak Yang menyuruh para rentenir untuk duduk tegak dan melihat ke bawah “jangan berani-berani menatap langsung padanya”
Eun Jae : Pak Yang, kau sedang apa?
Pak Yang : kau lihat orang-orang bodoh ini?
Eun Jae : kau pikir tidak apa-apa memukul orang?

Eun Jae mengobati luka pukulan para rentenir, dia juga memberitahu mereka kalau lukanya akan sembuh setelah 2minggu.
Pak Yang : kau mengobati orang-orang bodoh yang mencoba menyakitimu. Hati kakak kita memang sebesar lautan.
Rentenir : aku sungguh ingin menanyakan sesuatu? Apa kau sunggu kebih tua darinya (Pak Yang) ? kupikir kau lebih muda darinya.
Pak Yang : Chil Go (mereka langsung tegap)
Ketika Pak Yang akan memukul mereka, dia keburu ingat ada Eun Jae dan bilang “aku menghormati dia dengan sepenuh hati, umur bukan masalah, sejak dia menyambungakn tangan saudaraku, dia menjadi kakak kami.
“itu benar”
Pak Yang : benar kan dr. Song ?
Eun Jae : berhenti mengobrol, dan pasangkan ini (plester).

Pak Yang memberitahu rentenir itu kalau Eun Jae sangat baik hati dna berjasa, jadi dia meminta rentenir untuk melakukan perhitungan ulang, rentenir itu kaget mendengarnya.

Pak Yang membawa Boss rentenir ke ruangan, disana udah Woon Gong yang sedang menganalisi catatan piutang mereka. Rentenir itu masih terlihat sangat ketakutan,
Woon Gong : haruskah kita lihat? Kepala sekolah 40.000 dollar dan bunga 100.000 dollar?
Rentenir : itu benar.
Woon Gong : kau ingin semuanya kembali?
Rentenir : pinjaman ini masuk ke China 2th lalu. Aku kenal peminjamnya, jadi aku beri diskon.
Pak Yang : ayolah Chil goo.
Rentenir : itu tidak mungkin, dia akan membayarku.
Woon Gong : benarkah itu. Mari kita mulai lagi. Tunggakan dr. Song dia kaget melihat jumlah bungan yang sangat banyak (10.000.000 dollar) dia sudah membayar kembali 10.000 dollar.
Pak Yang : disni dikatakan ayahnya mengirim 5000 dollar juga.
Woon Gong : mari kita kurangi semua dan kurangnya hanya 25.000 dollar.
Rentenir  : tidak, tapi 40,000 dollar.
Pak Yang : hanya kepala sekolah. 20.000 dollar.
Rentenir  : aku tidak bisa melakukannya.
Pak Yang : memukul seseorang bukanlah satu-satunya kekejaman. Apa yang kau katakan padanya adalah kekejaman juga.
Woon Gong : dia bisa menuntut untuk kerusakan psikologis juga, jangan buat dia melakukanya, itu sangat kasar.
Mereka terus melakukan penawaran untuk mengurangi bunga dan sisa hutangnya, dan yang terakhir rentenir itu mengatakan 25.000 dollar. Woon Gong langsung bilang “Deal. Terima kasih untuk transaksinya” dan kesepakatan pun selesai denagn berjabat tangan. Dengan berat hati rentenir itu menyetujuinya..

Mereka pulang dari temoat rentenir itu dengan rasa percaya diri yang besar.

Hyun berhasil menghubungi Eun Jae, dan mereka pun bilang kalau semuanya sudah beres. Jae Geol masuk ke ruangan Hyun dan bertanya “siap itu? Dr. Soong?”
Hyun : mereka berhasil. Mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Jae Geol : baguslah.
Hyun : apa? Kau ingin mengobrol?
Jae Geol : ya. Kita prlu menyelesaikan masalah.
Hyun : bagaimana maksudmu?
Jae Geol : bolehkan aku memiliki dr. Song? Kau sudah menghabiskan banyak waktu dengan Nona Choi, bukankah kalian kembali bersama?
Hyun : tidak.
Jae Geol : lalu kenapa kalian selalu bersama-sama?
Hyun : itu karena...
Jae Geol : kenapa kau tidak menjawab? Kau tidak bisa membocorkan kondisi pasienmu?
Hyun : apa maksudmu?
Jae Geol : Nona Choi pergi ke Seol karena dia sakit, sejak saat itu mejamu penuh dengan makalah (Hyun merapikan kembali makalahnya) dia mngidap Leukemia? Apa yang kau tawarkan? Pengobatan? Belas kasihan? Cinta? Semuanya?
Hyun : Jae Geol,
Jae Geol : apa? Kau ingin menolak? Maka, kau seharusnya mencarikan dokter lain, bahkan jika mantanmu sedang sekarat, kau tidak bisa melakukan ini jika tidak merassakan apa-apa. Kau masih punya perasaan padanya?
Hyun : dia passienku, tidak lebih dari itu.
Jae Geol : bagaimana dengan dokter Song? Tidak ada hubungan juga?
Hyun : dia mungkin berpikir begitu, tapi...
Jae Geol : tapi apa?
Hyun : aku merasa berbeda.
Jae Geol : Kau menyukainya? (Hyun mengangguk “Ya”)
Hyun : jangan menjadikan lelucon dengan mengatakan itu perlu diselesaikan.
Jae Geol : siapa bilang itu lelucon? Kau bilang dr. Song brepikir tidak ada hubungan diantara klaian berdua. Bukankah aku punya kesempatan?
Hyun : Jae Geol.
Jae Gol : Jika aku melakukannya, aku tidak akan menyerah. Kau tahu alasannya kenapa? Aku tidak bisa melakukannya. Dr. Song betapa hebatnya dia. Dia adalah sesuatu yang lebih kau ketahui daripada aku untuk saat ini.
Jae Geol keljuar dari ruangan Hyun. Hyun masih terlihat bingung, kemudian Hyun menerima pesan “jadwal pengibatan sudah siap,  bawa pasien kerumah sakit”

Hyun menelpon dokter itu, dia mengatakan bahwa dia ingin membuat saran mengenai pengobatan  Young Eun.

Nona Choi sedang melamun sambil mencorat-coret bukunya denagn lukisan, perkataan Jae Geol terus terngiang dipikrannya. Dia sangat khawatir. Saat dia akan beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba Hyun datang.

Hyun : apa ada masalah?
Nona Choi : tidak, tidak ada masalah, hanya sesuatu yang tidak cukup berhasil.
Hyun : itu terjadi saat kau sakit? Dr. Go mengirim sms kepadaku bahwa jawal pengobatan sudah siap. Aku tidak akan bekerja besok, aku akan mengantarmu.
Nona Choi : haruskah aku pergi melakukan pengobatan itu?
Hyun : Nona Choi...
Nona Choi : baiklah, aku akan pergi.
Hyun :jangan takut, semuanya akan baik-baik saja.
Setelah Hyu pergi, Nona Choi terlihat sangat khawatir.

Woon Gong dan yang lainnya sudah kembali ke kapal. Woon Gong berteriak “para pemburu budak sudah kembali!” petugas yang lain langsung menyambut mereka. Tiba-tiba Eun Jae angkat tangan dan berkata “besok adalah hari sabtu, mari kita minum soju”
Perawat Pyo : kau yang akan membayarnya?
Pak Yang : Hei, soju sangat murah.
Eun Jae : lalu apa?
“Bir”
“dan perut babi”
Eun Jae pun setuju dengan permintaan mereka, mereka sangat senang dengan traktiran Eun Jae dan keselamatan meraka.
Ah Rim : bagaimana dengan kami dokter
Perwat Pyo : tentu saja, dia juga mengundangmu, kita semua di undang.
Eun Jae : Ya, mari kita rayakan traktiranku (semuanya bersorak gembira)
“kita berhutang semua ini kepada Pak Yang, kan?”
Eun Jae : benar.
“kau sangat keren. Kau pria sejati”
Pak Yang : aku lebih suka kau tidak memanggilku begitu, aku malu saat ini.
“pria jantan”
Kapten : iya benar, aku punya ide bagus. Kembali bekerja, kalian semua tidak bisa sperti ini disini.
Mereka baru menyadarinya, dan mulai melakukan tugasnya masing-masing. Baru terlihat kembali senyuman Eun Jae yang tulus dan penuh dengan kebahagiaan.