Advertisement
Advertisement
Episode 24 Part 2

All images credit and content copyright: MBC


Eun Jae mondar mandir di ruang tunggu operasi, dia terlihat sangat khawatir. Woon Jae datang dan bertanya “apa kakak cemas?” Eun Jae mengatakan “tidak”.
Woon Jae : duduklah, ini baru enam jam. Kau bilang, itu akan lebih dari 10jam.
Eun Jae : apa ada masalah? Tunggulah disini. Aku akan pergi dan memeriksanya.
Woon Jae menahannya : aku bilang, ini baru enam jam. Inikah yang Hyun khawatirkan. Dia menyuruhku untuk menjagamu. Dia bilang itu akan semakin buruk bagimu, dia juga bilang begini “jika mereka tidak menelponmu selama prosedur. Itu berarti operasinya berjalan lancar, jadi jangan cemas dan cukup menunggu” kau tahu itu kan?
Woon Jae membawakan minuman untuk Eun Jae, dan itu bisa membuat Eun Jae sedikit tenang.
Eun Jae : kau sudah dewasa.

Suasana di ruang operasi mulai genting, tiba-tiba banyak darah yang keluar dari perut pasien dan belum tahu dari mana asal dna penyebabnya, mereka mulai menyedot darah yang keluar.
Kim Do Hoon : Kim Jae Hwan fokus. Kau akan bertanggung jawab jika pasien meninggal karena pendarahan.

Direktur dan dr. Kang kaget melihat banyak kasa yang penuh dengan darah di ruang operasi.

Tekanan darah pasien mulai menurun, dan mereka sibuk mencari kebocoran, darimana darah itu berasal.

Eun Jae dan Woon Jae merasa tidak nyaman dan khawatir terhadap ayahnya.

Dr. Kim dan rekannya akhirnya keluar dari ruang operasi, Eun Jae dan Woon Jae langsung menghampirinya dan bertanya “bagaimana dengan operasinya?” Eun Jae terlihat sangat pasrah dengan hasil operasinya.
Dr. Kim : operasi berjalan dengan sangat baik.
Betapa bahagianya Eun Jae dan Woon Jae setelah mengetahui bahwa operasinya berjalan dengan lancar.
Dr. Kang : kami harus menunggu dan memeriksa, tapi tumornya sudah benar-benar diangkat.
Woon Jae : kakak, ayah akan hidup? Dia berhasil kan?
Meraka terlihat sangat bahagia dengan hasil operasinya.

Perawat mencoba membangunkan ayah Eun Jae, namun dia belum sadarkan diri juga. Eun Jae dan Woon Jae masuk ruangan dan Woon Jae mencoba membangunkannya “ayah, apa ayah sudah sadar?” Eun Jae hanya melihatnya. Dan akhirnya ayah sadarkan diri juga. Ayah mulai mengangkat tangannya namun masih terlihat sangat lemas. Eun Jae memberitahu ayahnya, bahwa operasinya sudah selesai dan berjalan lancar.

Kim Do Hoon masih berada di ruang operasi, dia melihat setiap sudut tempat tadi melakukan operasi. Eun Jae datang dan melihatnya dari luar.

Kemudian Eun Jae masuk ruang operasi dengan membawakn segelas kopi untuk Kim Do Hoon “apa kamu masih minum kopi manis setelah operasi?”
Kim Do Hoon : tentu saja, itu sudah berakhir.
Eun Jae : dua sendok teh kopi, gula dan krimer, tambah gula lagi?
Kim Do Hoon : kenapa kau tidak tenggelamkan aku di dalam gula saja?
Eun Jae : punyaku tiga sendok teh gula.
Kim Do Hoon : apa?
Mereka sangat menikmati minum kopinya, Kim Do Hoon duduk di samping Eun Jae dan bilang “kau dan aku duduk berdamoingan minum kopi manis setelah banyak banyak operasi yang tak terhitung jumlahnya”.
Eun Jae : kita bekerja saling berlawanan, pada banyak kasus juga.
Kim Do Hoon : kita bekerja dengan hebat bersama-sama.
Eun Jae : kamu pemimpin yang hebat. Maafkan aku, aku menghancurkan liburan kamu dengan meminta bantuan anda profesor.
Kim Do Hoon : tidak apa-apa. Sejak kapan kita bisa berlibur? (Eun Jae hanya terdiam) aku tahu apa yang ingin kau katakan. Kau tidak perlu beerusaha keras.
Eun Jae : Profesor, terima kasih.
Kim Do Hoon : aku yang harus berterima kasih. Kau membuat keputusan yang lebih sulit. Terima kasih. Sudah mempercayakanku untuk menjadi dokter ahli bedah. Terima kasih dan maaf (Eun Jae melihatnya) saat dokter bedah melakukan kesalahan di ruang operasi. Sejujurnya, meskipun pasien dan keluarga tidak akan pernah mau menerimanya, kesalahan dan kecelakaan bisa terjadi selama operasi. Dokter juga manusia.
Aku berusaha untuk menutupi kesalahanku dan mengubur kebenaran, itulah kesalahannya. Aku tidak tahu kenapa melakukan itu. Aku takut. Aku hanya memikirkan tentang kehilangan sesuatu, kritik dan serangan, reputasi hancur, aku bisa membahayakan jabatan dan gelarku. Inilah kesenangannya. Apakah orang lain mengenaliku atau tidak. Aku bertindak seolah menjadi dewa saat dsedang menggunakan pisau bedah dan berkeringat sepanjang malam diruangan untuk menyelamatkan pasien, lalu meminum secangkir kopi manis yang murah. Aku pikir ini akan menjadi lebih cukup untuk membuatku lanjut.
Setelah selesai mengungkapkan isi hatinya, Kim Do Hoon berterima kasih lagi kepada Eun Jae atas kopinya “terima kasih, aku belum pernah minum secangkir kopi seenak ini” dan Kim Do Hoon berharap bisa meminum kopi seperti itu lagi setiap saat dan bahkan lebih sering.
Sebelum keluar dari ruang operasi, Kim Do Hoon mengatakan lagi “kau sudah banyak menderita sejak aku mengasingkanmu. Sepertinya kau harus datang kembali. Jang Sung Ho ingin kau kembali dan direktur rumah sakit merasa tertekan. Kau akan dengan mudah menjadi asisten profesor, jadi...
Eun Jae : tidak... aku ingin tinggal di kapal rumah sakit.
Kim Do Hoon : kau ingin tinggal ? kenapa?
Eun Jae : mungkin seperti kamu, aku ingin menjadi dewa saat sedang memegang pisau bedah. Aku satu-satunya ahli bedah di kapal. Jadi Aku punya banyak peluang.
Kim Do Hoon : apa ?
Eun Jae ; dan ...
Kim Do Hoon : dan apa ? masih ada lagi?
Eun Jae hanya mengangguk dan tersenyum, namun dia tidak mengatakan apa alasan yang lainnya dia ingin tetap tinggal di kapal rumah sakit.

Perawat Pyo dan Woon Gong membawakan makanan untuk Eun Jae dan Woon Jae, Woon Jae senang dengan rasa peduli mereka.. Woon Gong bilang “operasi berjalan lancar dan kita harus merayakan Chuseok” perawat Pyo bilang kalau semua ini Woon Gong yang memasaknya.

Kpaten dan semua tim kapal rumah sakit datang membawa makan untuk merayakan keberhasilan operasi ayah Eun Jae, Hyun menanyakan dimana Eun Jae, Woon Jae bilang kalau Eun Jae sedang menemani profesor.
Jae Geol : apa semua orang berencana kumpul disini dan membawa makanan?
Petugas kapal : tidak, kita hanya saling membaca pikiran.
Suasana disana sangat ramai dan penuh dengan kegembiraan, tiba-tiba kapten melihat Woon Jae dan dia belum mengenalinya “tunggu, siapa dia?” Woon Jae pun memperkenalkan dirinya “aku Woon Jae, adiknya Eun Jae”
Kapten : owwwhhh kau tamoat sekali.
Woon Jae : terima kasih.
Meraka semua mulai menyantap makanan, ada yang saling menyuapi, menari dan masih banyak lagi kekonyolan yang mereka tunjukkan disana. Eun Jae sangat senag melihat kebersamaan dan kepedulian mereka terhadap dirinya.

Eun Jae dan Woon Jae membawa ayah ke pemakaman ibunya (Oh Hye Jun) Woon Jae menyimpan bunga di dekat abu ibunya.
Ayah : apa itu? Apa itu disamping foto ibumu?
Woon Jae : itu foto keluarga kita. Aku menaruhnya disana untuk ibu.
Ayah : kapam itu ?
Woon Jae : itu di teman hiburan . 100 hari setelah Woon Jae lahir.
Ayah : bagaimana kau ingat?
Eun Jae : itu pertama kalinya kita ke taman hiburan, itu juga foto pertama keluarga kita. Sepertinya itu yang pertama dan yang terakhir.
Woon Jae mencairkan suasana : itu bukan yang terakhir, kita akan berfoto setiap hari, ayah berbalik (sambil membalikkan ayahnya) dia juga meminta kakaknya untuk mendekat.
Eun Jae : mau apa kamu?
Woon Jae : ashhh kenapa dia belum datang.

Tiba-tiba Hyun datang, Eun Jae kaget ada Hyun datang kesana “kenapa kamu kemari?”
Hyun : maaf karena terlambat, aku harus mengambil kamera dulu dari Seol.
Woon Jae : kenapa kau jauh-jau ke Seol? Kamera apapun tak masalah.
Hyun : tidak mungkin. Kau ssudah lama tidak foto keluarga, bersiaplah, aku akan mengambil foto kalian.
Hyun mulai mengambil fotonya, dia terhenti karena melihat Eun Jae masih cemberut dan bertanya “apa kau bisa tersenyum? Apa kau akan bertempur? Wajahmu sangat suram” Eun Jae hanya bersuara “Ekhmmm”
Woon Jae : ayolah kak tersenyum.
Eun Jae pun akhirnya tersenyum dan Hyun pun senang melihat Eun Jae senyum dan tidak cemberit lagi.


2 komentar

Coooooooooo cweeeeeeeeeet ending.....kang min hyuk senyumnya bikin diabetes.......

Spoiler eps 25 dongs,pleaseeee.....