Advertisement
Advertisement
Episode 21 Part 1

All images credit and content copyright: MBC

Ayah Eun Jae berterima kasih kepada Hyun karena telah menyelamatkan nyawanya. Dia juga meminta bantuan kepada Hyun, tapi dia memohon agar tidak memberitahu apapun yang dia bicarakan kepada putrinya Eun Jae meskipun sedikit.

Eun Jae keluar dari lip, saat berjalan, seorang perawat memberitahu Eun Jae bahwa ayahnya sudah siuman dan kondisinya mulai stabil, Eun Jae pun berterima kasih kepada perawat tersebut dan lanjut berjalan.

Eun Jae berjalan menuju ruangan ayahna. Saat di depan pintu, Eun Jae mendengar ayahnya bicara “aku mengikuti program asuransi proteksi kanker sebulan lalu, jika aku di diagnosis terkena kanker, 90 hari setelah mendaftar, aku akan dibayar 15.000 dolar”. Eun Jae berhenti di depan pintu dan terus mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya.
Ayah : aku mempunyai 10 rencana. Sebelum 90 hari, jangan sampai ada catatan di diagnosis itu.
Hyun : aku tidka mengerti maksud bapak.
Ayah : fakta bahwa aku di diagnosis terkena kanker hari ini harus dihapuskan.
Hyun : bapak, memintaku....

Tiba-tiba Eun Jae masuk dan berkata “dia memintamu untuk merekayasa hasil medisnya” Hyun dan ayahnya kager mendenra ada Eun Jae yang tiba-tiba masuk dan mejelaskan apa yang dimaksud ayahnya.
Ayah : keluarlah, jangan kemari...
Eun Jae meminta Hyun untuk keluar dan tidak mendengarkan omong kosong ayahnya. Eun Jae semakin marah dan terus mengulangi perkataannya “keluarlah” kepada Hyun.
Eun Jae : Keluar sekarang...

Ayah : aku hanya  berusaha bijak. Kapan kau akan dewasa?
Eun Jae : apa?
Ayah : umurmu sudah lebi dari 30 tahun, kamu harus lebih fleksibel. Bernakan dokter ? (sambil melihat Hyun. Namun hyun diam saja) apa aku terlalu banyak meminta? Aku hanya memintamu menghapuskan catatan secara rahasia. Akan membahayakan siapa? Tidak ada kan? Tapi aku akan mendapatkan 150,000 dollar.
Eun Jae : cukup!!! (ayah dan Hyun langsung terpaku melihat Eun Jae) apa ayah belum puas menipu orang? Ayah menjadikan semua yang kami miliki dan aku sebagai jaminan. Sekarang, ayah ingin menipu perusahaan asuransi dengan nyawa?
Ayah : Woo Jae... aku menginvestasikan semua uang kuliahnya untuk mendapatkan kesempatan emas ini, kau jangan coba mengacaukannya. Tenanglah.
Eun Jae dengan tegas : tidak akan pernah.
Ayah : ini kesempatan terakhirku.
Eun Jae : mungkin tidak ada lagi.
Ayahnya berteriak “aku tidak peduli!”. Eun Jae mengegaskan “apa ayah tidak tahu? Apa maksudku?” ayahnya menarik nafas dab belum menjawab pertanyaan Eun Jae. Hyun terus terpaku kepada Eun Jae, dia terlihat bingung dengan percapan seorang ayah dan putrinya.
Ayah : ya, ayah tahu. Lakukan saja, aku tidak peduli.
Eun Jae pun menarik nafasnya tapi tidak mengatakan apapun lagi, ternyata Woon Jae mendengar percakapan ayahnya dari luar seperti yang terjadi dengan Eun Jae tadi, tanpa sengaja mendengar percakapan ayahnya

Saat Eun Jae dan Hyun keluar dari ruangan, Woon Jae langsung menahan mereka dan bertanya “apa maksudnya ini? apa yang ayah bicarakan?” Eun Jae tak mengatakan apapun dan langsung pergi, begitupun dengan Hyun, sebelum Hyun pergi, dia memegang pundak Woon Jae dalam artian Hyun menenangkannya, dan kemudian dia juga pergi bersama Eun Jae. Woon Jae masih bingung dengan semua ini.

Woon Jae masuk ke ruangan ayahnya, dan langsung bertanya”ayah, apa ayah sudah gila?”
Ayah : duduklah disampingku.
Woon Jae : ayah sudah gila? (sambil teriak)
Ayah : berhenti menangis dan duduklah. Kau akan menjadi kepala keluarga setelah aku pergi. Bagaimana kau akan bisa menjaga kakakmu, jika kau sangat lemah seperti ini.
Woon Jae tak berkata lagi, dia hanya terus menangis.

Hyun mengikuti Eun Jae, saat Eun Jae ingin membuka ruangannya, tiba-tiba pintu tersebut susah dibuka, dia terlihat semakin kesal, kemudian Hyun membantunya dan akhirnya pintu pun terbuka. Disana mereka tak berkata sedikipun.

Hyun menemani Eun Jae di sebuah lorong, dia belum berani mengatakan sesuatu kepada Eun Jae, tiba-tiba perut Eun Jae terlihat sakit dan bilang “aku...”
Hyun : hentikan. Jangan memaksakan diri, luapkan kemarahanmu dan berteriaklah jika perlu, jika kau menangis, menangislah demi isi hatimu.
Eun Jae langsung berbalik dan bilang “kenapa? Kenapa aku harus melakukannya, untuk apa? Kenapa aku harus terus menunjukkan kebutukanku kepadamu?
Hyun : karena aku manusia, bukan mesin.

Eun Jae pun berbalik lagi dan Hyun mulai mendekatinya sambil memegang kedua lengan Eun Jae dan berkata “berbagilah denganku, tidak selalu, hanya saat kau berjuang seperti ini” Eun Jae terus meneteskan air matanya.
Eun Jae : tidak. Aku tidak membutuhkanmu. Jangan terlibat dengan keluargaku lagi, meski saudaraku memanggilmu, meskipun ayahku sekarat atau meskipun sekarat... jangan pernah terlibat lagi (meskipun sakit untuk mengatakan hal itu kepada Hyun, dia tetap mengatakan semuanya)
Setelah Eun Jae pergi, Hyun terlihat bengong dan tidak tau hatus berbuat apa lagi dengan Eun Jae.

Eun Jae melanjutkan tangisannya di balik dinding, dia terlihat sangat kebingungan dengan apa yang dia hadapi saat ini.

Ayah sedang meminta Woon Jae untuk membujuk Hyun menghapus catatan medisnya, Woon Jae berteriak “ayah tidak bisa melakukan itu” namun ayahnya terus memaksa.
Woon Jae : ayah akan mati.
Ayah : aku mungkin akan mati setelah operasi, aku sudah sering mencari tahu soal itu, bahkan jika aku operasi, aku hanyu punya kesempatan kurang dari 20% untuk hidup. 8 dari 10 orang mati karena penyakit seperti ayah ini. tidak ada yang bisa menjanjikan, kalau aku tida akan menjadi 1 dari 8 orang tersebut.
Woon Jae : ayah punya kakak, dia akan melakukan sesuatu.
Ayah : semua yang telah kakakmu lakukan lebih dari cukup. Gara-gara aku, dia sudah mendatangi semua ini, berusaha untuk membereskan kekacauanku, dia sudah bertahun-tahun.
Woon Jae : ayah, dia hampir selesai melunasi hutang bank.
Ayah : aku meminjam dari rentenir juga.
Woon Jae kaget “apa?” ayah ingin kembali untuk melunasi hutangnya dan membayar purinya beberapa kali  lipat dari yang sudah putrinya keluarkan, dia merasa hidupnya sial dan hutangnya semakin menumpuk.
Ayah : dengarkan aku baik-baik Woon Jae, aku tidak berguna dan hanya seorang pecundang, meskipun begini aku tetap ayahmu. Aku mungkin tidak bisa memberimu warisan, tapi aku tidak ingin membuatmu terbebani oleh hutangku. Biarkan aku melakukannya, maukah kau Woon Jae?
Woon Jae hanya menangis dan tak mengatakan apapun lagi kepada ayahnya.

Eun Jae sibuk menangani pasien di UGD, dia terus menerima panggilan bahwa ada pasien yang berdatangan membutuhkan bantuannya, Woon Jae melihat kesibukan Eun Jae dari kejauhan. Eun Jae terus mondar mandir ruang operasi, UGD dan ruangan pasien. Woon Jae masih mengikuti Eun Jae dan terus memperhatikan betapa sibuk dan sangat bekerja kerasnya Eun Jae.

Woon Jae memikirkan apa yang dikatakan ayahnya tadi, dan dia juga tidak tega dengan kerja keras kakaknya yang tak kenal lelah.

Hyun melampiaskan amarahnya dengan bermain basket sendirian, dia terlihat sudah sangat lelah, namun Hyun terus bermain basket.

Setelah selesai bermain basket, Hyun mandi dan masuk kamar, tiba-tiba dia mendapat panggilan dari Choi Young Eun, dia pun buru-buru mengangkatnya dan bertanya “kau dimana?”
Young Eun : aku kembali.
Hyun : apa?
Young Eun : aku menyewa studia di dekatnya, aku akan tinggal disini untuk sementara waktu.
Hyun : bagaimana dengan kemoterapinya?
Young Eun : aku tidak mau, aku tidak akan melakukannya.
Hyun : ada apa denganmu?
Young Eun : itu akan membuatku trelihat jelek dan kehilangan rambutku.
Hyun : Young Eun...
Young Eun : aku tidak akan sembuh, ini hanya masalah membeli waktu.
Hyun semakin jengkel : jadi aku membeli banyak waktu, kau mungkin menemukan donor.
Young EUN : itu tidak pasti, aku tidak ingin bergantung pad aharapan palsu dan hidup dengan cara yang menyedihkan, aku tidak punya banyak hal untuk diharapkan dalam hidup ini.
Setelah selesai dengan pembicaraannya, Young Eun langsung mematikan panggilan dengan Hyun, Hyun mencoba menelpon balik namun ponsel Young Eun langsung dimatikan.

Young Eun sedang fokus melukis, tiba-tiba bel pintunya berdering “ya. Siapa?” dia pun langsung membuka pintu, setelah membuka pintu dia kaget karena tamunya adalah Hyun “kenapa kamu kemari?”
Hyun : mari kita bicara, pake jaketmu, diluar ckup dingin.
Hyun pun langsung pergi, Young Jae masih bengong, dia bingung kenapa tiba-toba hYun datang dan mengajaknya bicara keluar, tapi dia juga terlihat senang dengan perlikau Hyun terhadapnya saat ini, Young Eun senyum-senyum sendiri.

Akhirnya Hyun dan Young Eun tiba di sebuah cafe, Young Eun mengatakan kalau dirinya cukup menyedihkan “kau langsung datang jauh-jauh kesini, aku tahu , kalau itu bukan karena kamu merindukanku, ataupun menyukaiku, tapi itu cukup membuatku senang meski aku tahu semuanya, kenyataan kalau kau datang sudah cukup membuatku bahagia”.
Hyun : berobatah.
Young Eun : aku tida punya niat.
Hyun : kenapa kau sangat sulit diatur.
Young Eun : tida ada gunanya.
Hyun : kau tidak mempertimbangkan orang-orang yang akan sedih karena kehilanganu?
Young Eun : apa itu membuatmu terluka? Jika aku mati kau akan terluka juga? (Hyun hanya terdiam) jika kau tinggal denganku tanpa mencintai orang lain, jika kau berjanji untuk tinggal hanya di sisiku, aku akan berobat, apa kamu tidak mau melakukannya?
Hyun masih terdiam dan tidak tahu apa yang akan dikatakan kepada Young Eun.