Advertisement
Advertisement
Episode 29 Part 1

All images credit and content copyright: MBC


Hyun dan Eun Jae tiba di tempat persembunyian geng penyelundupan Sabu, Hyun dan Eun Jae didorong untuk lebih cepat. Setiba di halaman gudang, Eun Jae terkejut melihat banyak orang yang tergeletak di tanah dengan berlumuran darah. Kemudian Hyun dan Eun Jae saling memandang.

Saat Hyun dan Eun Jae di dorong kembali untuk berjalan, tiba-tiba tangan orang yang tertembak bergerak dan menjatuhkan pistol tepat di kaki Eun Jae, dan itu membuat Eun Jae menjerit karena takut. Eun Jae langsung melihat kondisi orang tersebut dan bilang “dia masih hidup” ketua geng tersebut langsung menembaknya dan membuat Eun Jae berteriak kembali karena semakin takut.
Hyun berteriak “dokter Song” dan menghampirinya, namun ketua geng itu langsung menahan Hyun dengan menahan pistol di kepala Hyun. Dia memperingatkan Eun Jae untuk tidak berteriak lagi, jika Eun Jae berteriak dan melihat kondisi orang-orang disana, dia akan menembak kepala Hyun. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pasien yang membutuhkan operasi darurat.

Akhrinya mereka sampai, Hyun dan Eun Jae sangat terkejut melihat kondisi pasin yang sudah berlumuran darah dan tidak berdaya. Ketua langsung memberitahu boss besarnya, bahwa dia membawa dokter hebat dan akan membuatnya segera membaik.
Mereka langsung menyuruh Hyun dan Eun Jae untuk segera menolong Boss besarnya, sebelum mulai menyelamatkan pasien, Hyun menanyakan kondisi Eun Jae, dan Eun Jae pun menjawab “aku harus baik-baik saja” Eun Jae terlihat sangat ketakutan dan tak henti bergemetar.

Hyun memerikasa kondisi pasien, setelah itu Hyun memasang oksigen dan Eun Jae melihat luka tembak di tubuh pasien, Eun Jae melihat ada dua tembakan di perut pasien. Hyun mengatakan bahwa jantungnya dan paru-parunya tidak tertembak, tapi nafasnya tidak stabil.
Kemudian Eun Jae meminta Hyun untuk membalikkan tubuh pasien, Eun Jae melihat ada satu peluru yang keluar dan bilang “peluru yang lain bisa saja merusak ventrikal kanannya” (Ventrikel adalah ruang jantung yang bertanggung jawab untuk memompa darah meninggalkan jantung).
Angota yang lain sangat panik. Hyun mulai memeriksa tekanan darah pasien, tekanan darah pasien sangat rendah “70”. Eun Jae mengatakan “kemungkinan besar, pelurunya juga merusak pembuluh darah” Eun Jae membersihkan luka tembak dengan cairan, pasien terlihat sangat kesakitan. Eun Jae mengatakan “kita perlu mengembalikan denyut nadinya, memberinya cairan dan membawanya ke rumah sakit kapal”.
“bawa dia kemana?”
Eun Jae mengatakan, jika mereka tidak mengipoprasinya, pasien akan meninggal. Ketua geng menyuruh Eun Jae untuk melakukannya di gudang, Eun Jae terkejut dan marah “apa?” dia terus bersikeras kalau operasinya harus dilakukan di gudang “kataku, lakukan disini!”
Eun Jae :  kita perlu membius dan membuka perutnya, tanpa anestesi tidak mungkin untuk melakukan operasi.
Dia semakin marah dan membentak Eun Jae “keluarkan pisau bedahmu disini!!!” Eun Jae pun membentaknya “apa kamu menyuruhku untuk membunuhnya?”. Dia menodongkan pistol ke kepadal Eun Jae dan tetap menyuruh Eun Jae untuk melakukan operasi sekarang juga. Eun Jae mengatakan “jika aku melakukannya, pasien akan mati. Pisau bedah adalah alat yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa. Aku tidak bisa menggunakannay sembarangan dan membuatnya menjadi senjata”.

Dia mulai kesal, kemudian dia menekan pistolnya ke kepala Eun Jae, satu tarikan pelatuk Eun Jae akan mati. Dia terus memaksa Eun Jae untuk melakukan operasinya disana, dan keputusannya tidak bisa diganggu gugat siapapun. Kemudian Hyun angkat bicara “pertama, letakkan pistol itu ke bawah” dia langsung mengarahkan pistol ke Hyun dan berkata “aku tidak akan tertipu olehmu, apa kau tidak berencana untuk melakukan sesuatu setelah membawa kami ke rumah sakit kapal? Jika kau menyeretnya sampai pagi, kita tidak akan punya cara untuk melarikan diri, kan?” Hyun pun menjelaskan kepadanya.
“itu tidak benar, ini operasi yang sangat rumit, kami membutuhkan banyak peralatan. Dalam kondisinya yang seperti ini, kami tidak yakin, apa kami memiliki cukup peralatan untuk menyelamatkannya”
Ketua geng : lalu, kenapa kamu menyuruh kami ke rumah sakit kapal?
Hyun : jika aku minta pergi ke RS yang lebi besar, apa kamu akan melakukannya? Kau tidak bisa. Jika kau tidak bisa, kau tidak akan menargetkan kami sekarang (Eun Jae terlihat khawatir dengan kondisi pasien) kami memang tidak memiliki smua peralatan. Tapi kami memiliki Tim yang pernah membantu kami melakukan operasi. Orang yang pernah membantu kami menyelamatkan orang lain, orang-orang itu....

Tiba-tiba pasien kesusahan untuk bernafas, Hyun pun langsung memeriksanya, dan pasien tidak bernapas dan dia akan melakukan intubasi. Hyun dan Eun Jae langsung melakukan intubasi dan akhirnya napas pasein kembali. Hyun memohon kepada ketua geng tersebut untuk membawa psien ke rumah sakit kapal karena itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan pasien.
Anggota lain membujuk ketuanya untuk membawa Boss besar mereka ke rumah sakit kapal dan akhirnya ketua geng setuju, tapi dia punya satu syarat. Dia meminta mereka untuk menyelesaikan operasi selama tiga jam. Hyun dan Eun Jae kaget, dia tetap mengancama, jika operasinya lebih dari 3jam, keluarga rumah sakit kapal mereja akan mati. Eun Jae sangat kesal tapi dia tidak mengatakan apapun. Dia melihat reaksi Eun Jae dan bertanya “apa yang kau pikirkan, dr. Song bisakah kau melakukannya?”
Hyun terus melihat Eun Jae, dan Eun Jae pun mengangguk “Ya” untuk melakukan operasi selama 3jam. Meraka pun bersiap untuk membawa pasien ke rumah sakit kapal.

Kapten diikat dengan tali, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu, anggota geng terus memainkan ponselnya, namun pistolnya tetap berada di kepala kapten. Kapten melihat layar dan semua tombol di kapal.

Petugas pantai sedang mengawasi kapal lain dari monitor, namun mereka heran karena kapal rumah sakit menghilang, petugas  bialng “mereka ada di Blukdo lima menit yang lalu”
“dan sekarang mereka sudah pergi?”
Mereka khawatir terjadi sesuatu di kapal rumah sakit.

Semua petugas rumah sakit kapal masih di sandera dan diawasi dengan sangat ketat, Pak Chu melihat ke arah meja dan disana ada ponsel.

Jae Geol berbisik kepada Pak Chu “menurutmu apa yang terjadi dengan dokter Song dan Dokter Kwak?” Pak Chu mengatakan “ada jalan keluar, bahkan jika dunia akan berakhir bagi kita” Jae Geol tidak mengerti dengan perkataan Pak Chu. Pak Chun pun menunjukkan ponsel yang berada di meja.
Pak Chu : ini adalah tetelpon darurat kita, bagaimana kita bisa melakukannya?

Ketika Jae Geol sedang berpikir mencari cara, tiba-tiba ada ponsel yang berdering, Hyun dan Jae Geol mulai khawatir takut ponsel mereka yang berdering. Dan ternyata ponsel anggota geng yang berdering dan mereka pun merasa lega.
Anggota geng mendapat panggilan dari ketua mereka, dan memberitahukan bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju kapal rumah sakit, setelah menerima panggilan, mereka mencari yang perawat Pyo dan Ah Rim. Ah Rim dan perawat Pyo pun menjawabnya dengan nada ketakutan “a... aku” . kemudian mereka mengajak AH Rim dan perawat Pyo untuk mengikutinya.

Jae Geol dan Pak Chu saling memandang dan memberikan kode, Ah Rim dan perawat Pyo di paksa untuk ikut dengan mereka. Semua petugas kapal berteriak memanggil perawat Pyo dan Ah Rim. Pak Chu langsung berdiri dan bertanya “kenapa kau membutuhkannya? Kemana kau akan membawanya?” Pak Chu langsung mendapat tendangan dari mereka, dan pak Chu pun terjatuh, ponsel yang ada di meja tadi jatuk ke bawah meja. Petugas wanita berteriak histeris melihat temannya di tarik keluar.
Saat anggota lain tidak terlalu fokus mengawasi mereka, Jae Geol berusaha mengambil ponsel tersebut, Pak Yang, Pak Chu dan Joon Young terus mengawasi anggota geng tersebut agar Jae Geol tidak ketahuan. Akhirnya Jae Geol mendapatkan ponselnya dengan susah payah. Jae Geol mulai membka ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.

Ah Rim dan perawat Pyo di bawa ke ruang operasi, anggota geng membuka tali di tangan perawat pyo dan menyuruhnya untuk membuka tali dari tangan Ah Rim, dia menyuruh AH Rim dan perawat Pyo untuk bersiap melakukan operasi. Perawat Pyo kaget dan bertanya “operasi? Operasi apa?” dan terdiam.
“kau harus menjahit luka tembak di perut, apa yang sedang kalian lakukan? Cepat bersiap” dia terus menodongkan pistolnya. Meski  ketakutan, perawat Pyo berkata “kami membutuhkan lebih banyak bantuan untuk operasi semacam itu, hubungi dokter gigi, Dokter Cha Joon Young” dia mengatakan dengan membentak perawat Pyo “cepat lakukan pekerjaan kalian”
Perawat Pyo menegaskan “aku jelas-jelas memperingatkanmu, jika terjadi sesuatu kepada pasien, itu adalah salahmu” angota geng tersebut terlihat ketakutan dengan perkataan perawat Pyo.

Anggota geng yang menyandera kapten keluar melihat boss-nya sudah datang. Hyun dan Eun Jae membawa pasien ke rumah sakit kapal. Anggota menanyakan kondisi Boss besar mereka, ketua mengatakan bahwa mereka akan melakukan operasi.
Anggota : haruskah kita melarikan diri, ini bukan waktunya untuk loyalitas.
Ketua : jika ini tentang kesetiaan, aku pasti sudah membuangnya. Boss adalah satu-satunya orang yang tahu dimana uangnya disembunyikan. Dan obat yang kita dapatkan hari ini, ada di tangan boss.
Anggota : mungkin kita bisa lolos begitu saja kemarin. Tapi ini masalah waktu sampai geng itu akhirnya menemukan orang-orang mereka yang meninggal.
Ketua : lalu mereka akan mengirim anggota yang lebih kuat, bukan?
Anggota : perahu terakhir yang bisa menjempu kita ada disini, di jam4 pagi, mungkin ini kesempatan terakhir kita.
Ketua : aku bilang pada dokter itu untuk menyelesaikan operasi pukul 02.30 pagi.
Anggota : bagaimana jika tidak?
Ketua : kita bunuh mereka dan lepas landas.
Angota : boss besar juga?
Ketua mengatakan bahwa boss besarnya juga akan dia habiskan jika tidak selesai tepat waktu, anggotanya terlihat sangat kesal karena usulannya tidak di dengar.

Kapten mendapat panggilan dari penjaga pantai, kapten sangat ingin menjawabnya namun dia tidak bisa, Kapten berusaha mendekati pusat suara, namun tetap tidak ada hasilnya karena mulutnya di tutup, tangan dan kakinya pun diikat sangat kencang.
Penjaga pantai bertanya-tanya “kenapa mereka tidak menjawabnya” mereka pun mencoba memanggil nomor pribadi kapten, namun ponselnya mati. Mereka semakin khwatir terjadi sesuatu dengan kapal rumah sakit, karena panggilan radion dan panggiln pribadi tidak ada yang menjawab.

Hyun, perawat Pyo, Ah Rim dan Joon Young sedang melakukan persiapan untuk operasi, mereka diawasi sangat ketat oleh anggota geng tersebut.

Eun Jae masuk ke ruang sterilisasi untuk membersihkan tangnnya dengan diawasi 2 anggota geng. Ketua mengingatkan Eun Jae “Hei! Dokter Song Eun Jae. Ingat! Kau punya waktu tiga jam. Sebaikanya kau selesaikan jam 2:30 pagi ini. jika lebih dari 3jam. Aku akan membunuh salah satu anggota keluarga kapal rumah sakitmu setiap satu menit sekali”
Eun Jae terlihat sangat kawatir dengan perkataan ketua geng tersebut, dia sangat lemas dan menagis di sepan washtafell.