Advertisement
Advertisement
Episode 27 Part 2

All images credit and content copyright: MBC


Kilas balik ditampilkan saat kecil Eun Ji. Eun Ji menangis tidak ingin diberi nama Ji Eun, ibunya meminta Eun Ji untuk berhenti menangis. Dia terus berteriak sambil menangis “aku bukan Ji Eun” dia tak henti menangis, sampai ibunya merasa jengkel dan memarahinya.
Eun Ji : ayakhu Kwak Sung, kakakku Kwak Hyun, kenapa aku punya tiga kata dalam namaku?
Ibu : berhenti menangis, itu bukansesuatu untuk di keluhkan.
Eun Ji : aku tidak ingin nama JI Eun. Aku tidak suka nama itu ibu,,,
Tiba-tiba ayahnya datang dan berkata “kau tida perlu menjadi JI Eun” Eun JI senang ayahnya pulang dan langsung di gendong ayahnya.
Ayah : kau bisa menjadi Kwak Ji.
Eun JI : Kwak Ji?
Ayah : aku Kwak Sung, dan kakakmu Kwak Hyun. Kau bisa menjadi Kwak JI sekarang.
Ibu : kau pasti sangat senang dengan nama itu. Namamu berubah menjadi Kwak Ji.

Setelah mengingat masa lalunya dia bial “Kwak Ji.” “menurut ibu, apa ayah pergi ke tempat itu? Untuk menepati janji kami?” Ibu dan Eun Ji terlihat sangat sedih dan yakin kalau ayahnya pasti datang ke tempat pavoritnya.

Eun Ji dan ibu dalam perjalanan laut menuju tempat pavoritnya.

Hyun dan Eun Jae mengantar pasien naik ambulan untuk di bawa ke rumah sakit Geoje Jeil, saat Hyun akan naik san ikut bersama petugas rumah sakit, Eun Jae menahannya dan berkata “kau harus pergi sekarang” namun Hyun merasa kalau pasiennya masih membutuhkannya.
Eun Jae : kau sudah menyelamatkan pasien, jadi aku akan mengawasinya, kau harus menemui ayahmu sekarang dan kau bisa pergi sekarang.
Hyun mendengarkan saran Eun Jae lagi dan langsung berlari menuju mobilnya. Dan Eun Jae ikut dengan ambulan untuk mengganti Hyun mengawasi pasiennya.

Eun Ji dan ibu akhirnya tiba di tempat tersebut, dan dugaan mereka benar kalau ayahnya ada disana sedang asyik bermain pistol gelembung. Mereka tak berkata apapun dan langsung berjalan untuk menghampirinya.

Ji Eun mendekati ayahnya dan bertanya “kamu sedang apa disini?”
Ayah “ aku sedang menunggu putriku.
Eun Ji : berapa umurnya?
Ayah : dia berumur 6th (Eun Ji pun duduk di dekatnya dan bertanya kembali)
Eun JI : siapa nama putri kamu?
Ayah : Kwak Ji.
Eun Ji terharu bahwa ayahnya masih mengingat masa kecilnya “Kwak Ji” ayah juge meberitahu bahwa nama asli purinya “Kwak Ji Eun, namun dia lebih suka di panggil Kwak Ji” ibunya melihat dari kejauhan dan dia juga terharu sampai-sampai meneteskan air mata di pipinya.
Eun Ji melihat pistol gelembung dan bertanya “apa ini?’
Ayah : ini pistol gelembung, aku membelinya, saat perjalanan menuju tempat ini. putriku suka bermain gelembung (sambil memainkan pistol gelembung itu)
Eun Ji : bolehkan aku mencobanya?
Ayah : boleh, asalkan kau hati-hati memainkannya. Dia cukup sensitif. Jika kau merusaknya, mungkin dia akan menyerangmu.
Eun Ji berjanji akan berhati-hati memainkan pistol gelembungnya. Ayah terlihat sangat bahagia.
Ayah : pistol mengeluarkan gelembung. Ini permainan yang menarik. Bukankah begitu?
Eun JI : ya. Jika semua senjata mengeluarkan gelembung seperti ini, itu akan menyenangkan. Maka ayah tidak akan pergi berperang. (Eun JI tak henti menangis)
Ayah : ayahmu pergi berperang? Apa kamu merindukanmu?
Eun JI tak mengatakan apapun. Dia langsung memeluk ayahnya dan ayah pun merangkulnya.

Akhirnya Hyun datang, dia melihat kedekatan Eun Ji dengan ayahnya yang suda lama mereka Hyun rindukan saat-saat seperti itu. Hyun menghampiri ibunya yang sedang menangis, dia pun menenangkan ibunya dengan memberikan sebuah pelukan. Ayahnya juga menenangkan Eun Ji yang sedang menangi.

Di rumah sakit Geoje Jeil, Geun Ja masih belum siuman, dia ditemani sahabatnya dulu On Ja dan Choon son. Setelah dia sadar On Ja memberitahu Geun Jae bahwa dia sekarang ada di rumah sakit. On Ja mengetes ingatannya “apa kau ingat, diokter yang menemukanmu? Dia membawamu jauh-jauh ke rumah sakit”
Geun Ja : benar. Aku ingat itu?
On Ja : apa kau mengingat semuanya dengan jelas?
Akhirnya ingatan Geun Jae kembali normal, On Ja berpikir kalau Geun Jae mengidap Alzheimer.
On Ja : bagaimana dia bisa kembali normal?
Choon Son : lantas? Apa kau tidak senang?
On Ja : apakah kau baik-baik saja Geun Ja?
Choon Son : jelas tidak, dia bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Lihat saja dia, dia tidak sehat.
Geun Ja : siapa yang kau bicarakan? Menurutmu kau terlihat lebih sehat dariku? (On JA hanya menertawakannya) maafkan aku, maafkan aku Choon Son.
Choon Son membentakanya “minta maaf atas apa?”
Geun JA : saat kau sakit, aku tidak pernah mengunjungimu.
Choon Son masih dengan nada kasar menjawabnya “Hentikan omong kosongmu”
Geun JA : biarkan aku jelaskan, Choon Son. Aku takut kalau aku akan menjadi sepertimu. Sejujurnya, aku tidak tinggal di Seol (mereka terkejut dengan pengakuannya) aku penyelam seperti kaui di laut timur (mereka semakin terkejut dan saling memandang).
“sudah lebih dari 20th, sejak aku berpisah dengan suamiku. Aku tidak tahu apa yang haruss aku lakukan dengan anak tunggalku. Setelah bercerai aku mulai menyelam lagi. Mungkin aku diatkdirkan untuk menjadi seorang penyelam. Menjadi seorang penyelam lagi, itu tidaklah sulit. Aku mulai menabung sedikit demi sedikit, tapi anakku menyia-nyiakan semua itu. Sekarang, dia berpikir kalau ibuku akan segera meninggal. Dia ingin mengirimnya ke Sanatorium dan menjual rumahnya. Jadi aku harus bekerja keras untuk menghentikan dia melakukan ini, dan aku khawatir akan sakit sepertimu” mereka terharu dan menetskan air mata mereka.
Choon Son : Geun Ja... Tidak, tidak. Geun Hee.
Geun Ja : aku Geun Ja, panggil saja aku Geun Ja. Nama baru tida bisa mengubah kalau aku orang desa.
Mereka semua menangis haru, dan saling meminta maaf atas kesalahannya selama ini.

Mereka sedang asyik mengobrol dalam perjalanan menju tempat penyelaman mereka.  Saat mereka sedang bersiap-siap untuk menyelam, Choon Son mengatakan “haruskah kita menyelam bersama-sam sekarang? Sudah lama rasanya tidak menyelam bersama”
Geun JA : sudah berapa lama itu?
On Ja : Sudah 30th
Akhrinya mereka mulai menyelam bersama dan persahabatan mereka pun kembali utuh seperti dahulu.

Eun Jae dan Hyun membawa ayahnya ke tepi pantai, dan Eun Jae memberitahu Hyun kalau dia sudah memberitahu Seong Yon tentang ayahnya.
Hyu : bagaimana reaksinya?
Eun Ja : dia bilang, dia kecewa karena aku tidak mengatakannya dari dulu dan menyesal tidak bisa membuatku mempercayainya.
Hyun : baguslah.
Eun Ja : itu tidak terlihat seperti ayah akan menyetujui pernikahanku, kan? Aku sangat kecewa. Aku ingin memegang tangannya dan menikah dengan dia.
Ayahnya hanya terdiam, tiba-tiba Seong Yon datang dan bilang “kau bisa memegang tanganku, aku akan meminta restu ayahmu hari ini, jadi kenapa tidak?” dia menarik tangan Eun JI dan bilang “saling berpegangan tangan dan menikah?” dia dan Hyun saling menatap.

Seong Yon meminta restu ayah Eun Ji dan memperkenalkan dirinya “senang akhirnya bisa bertemu dengan kamu, Pak Kwak. Namaku Han Seong Won. Aku datang untuk meminta restu kamu, pak? (ayah menatapnya) tolong ijinkan aku menikahi Eun Ji, aku akan mencintai dan menjaganya, saat kami senang maupun sedih. Apa anda berkenan memberi ijin pada kami?”
Ayah : Kwak Ji, apa kau menyukai orang ini?
Eun JI : ayah...
Ayah : aku tidak bisa bilang, kalau aku menyukainya. (mereka kaget)
Hyun : ayah...
Ayah : kau pencuri.
Mereka mengerti apa yang dikatakan ayah barusan, mereka sangat senang mendapat restu dari ayahnya. Ayahnya juag tersenyum bahagia. Ternyata ibunya ada di dekat batu. Dia melihat kebahagiaan anak-anak, suami dan calon menantunya.